Usai pulang dari kafe Fanesh, Lila memutuskan menaiki taksi menuju sebuah pasar murah. Sesuai saran dari Fara, Lila rela berjejalan dengan muda-mudi lainnya untuk mendapatkan pakaian brand bekas yang bagus untuk ia pakai sebagai outfit manggung. Kali ini Lila memutuskan untuk berangkat sendiri. Sebab jika bersama dengan Dodo, maka sudah pasti Dodo melarangnya membeli pakaian yang seksi.
Usai bertarung mendapatkan semua yang ia mau, Lila pun segera keluar dari pasar. Lila menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan lega ketika berhasil keluar dari pasar murah itu.
"Gila sih. Cuma barang bekas tapi jadi rebutan gitu. Pantas aja banyak orang pakai barang branded. Ya mungkin banyak dari mereka beli baju bekas gini juga," celoteh Lila.
"Ya ampun haus banget .... cari minum dulu kali, ya."
Lila menyeberang jalan. Ia memasuki warung es campur untuk menghilangkan dahaganya.
"Bu, es campurnya satu porsi, ya!"
"Siap, Neng!"
Lila mengeluarkan ponselnya. Sembari menunggu datangnya es campur, ia membuka galeri foto. Lila kembali melihat-lihat potretnya bersama dengan keluarganya. Lila tersenyum, kendati ada rasa perih terselip di relung hatinya. Bohong jika Lila tak rindu keluarga, tetapi ia sudah melangkah sejauh ini. Ia tak mungkin kembali dengan tangan kosong. Terlebih ia juga malu. Salah satu dari anggota keluarganya pasti melihat dirinya yang dihujat di sosial media. Jika ia pulang sekarang, yang ada ia dikatai oleh ayahnya.
"Nggak. Aku nggak boleh nyerah. Ayah pasti merasa menang banget kalau aku pulang. Sudah pasti ayah bakal ngejekin mimpi aku. Aku nggak boleh nyerah. Pokoknya setelah ini aku yakin pasti bakal berhasil. Vocal aku lumayan dipuji publik, sisa dandanan doang yang perlu diperbaiki," monolog Lila pelan.
Tak lama sang penjual es campur membawakan pesanan Lila.
"Ini es campurnya, Neng."
Senyuman Lila mengembang melihat betapa menggiurkannya es campur itu. "Wah ... Seger banget nih. Makasih ya, Bu."
"Iya, Neng."
Lila mulai menyeruput air pekat berwarna merah muda tua itu dengan suka cita. Lalu memasukkan potongan alpukat ke dalam mulutnya. Sampai Lila baru sadar jikalau penjual es itu masih ada di hadapannya. Lila menatap canggung wanita itu.
"Ada apa ya, Bu?"
"Ah, enggak. Saya tuh kayak pernah liat kamu di HP saya. Kamu tuh Lila yang nyanyi sama Agil itu, bukan? Agil itu anak teman saya, lho."
Lila terkejut mendengarnya. Seketika jantungnya berdebar dengan tak nyaman. Rasa malu mulai menjalar begitu saja. Lila terpaksa membentuk sebuah senyuman kecut pada wanita itu.
"Eumm ... emang Ibu liat saya di video kayak gimana, Bu?"