High heel hitam yang dipakai Lila tampak tak benar-benar kokoh menginjak lantai, sebab kaki Lila yang belum bisa menyesuaikan keseimbangannya. Sudah lima belas menit berlalu, tetapi Lila masih belajar berdiri dengan tegak dengan sepatu tinggi itu.
"Duuhh ... baru latihan berdiri doang udah keringetan gini. Ck, pokoknya malam ini juga aku harus bisa pakai heels. Minimal jalannya dulu nggak goyang," celoteh Lila.
Lila terus berusaha untuk tenang dan senyaman mungkin. Hingga ia dapat berdiri dengan tegak dan enjoy. Langkah selanjutnya, Lila berlatih berjalan dengan hati-hati. Meski seringkali hendak terjatuh, Lila dapat menyelamatkan dirinya dengan baik. Tanpa rasa menyerah, Lila berlatih berjalan hingga berjam-jam.
Lambat laun ia mengusai berjalan dengan sepatu tinggi itu. Lila kini berjalan dengan anggun sambil mengatur ekspresinya agar tampil cantik di hadapan orang nanti. Sebab ekspresi juga menunjang kadar penampilan dan rasa percaya diri seseorang.
Senyuman Lila terpatri ketika ia tak sengaja melewati lemari kaca. Ia melihat penampilannya malam ini jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Aku yakin dengan penampilan menggugah nanti, aku semakin disukai banyak orang. Komentar negatif mereka bakal berganti dengan komentar positif. Ya, pasti bisa."
Lelah berlatih berjam-jam, kini Lila memutuskan untuk istirahat. Ia pun masuk ke dalam kamarnya. Tak sengaja tatapan Lila tertuju pada paper bag yang ada di atas meja. Hadiah pertama dari Dodo untuknya.
"Oh, iya. Lupa buka kado dari Dodo," ucap Lila seraya berjalan ke arah meja belajar dan duduk di kursi.
Lila mengeluarkan isi di paper bag itu. Ternyata isinya sebuah gaun panjang yang indah dan sebuah hijab panjang berwarna merah muda, senada dengan warna gaun itu.
"Bagus banget ... ini pasti mahal banget deh. Tapi kok Dodo tetiba beliin aku baju muslimah gini, ya. Dia kan tahu aku tuh nggak mungkin pakai-pakaian kayak gini," gumam Lila keheranan.
Saat Lila hendak memasukkan kembali pakaian itu ke dalam paper bag, ia melihat secarik kertas di dalamnya. Lila pun meraih kertas itu. Tulisan dari Dodo.
^Selamat Ulang Tahun, Kak Lila. Semoga panjang umur dan semoga Kak Lila selalu bahagia. Aku pengin banget ngasih Kak Lila barang yang bikin Kak Lila makin cantik. Jadi aku beliin gaun panjang dan hijab buat Kak Lila. Gapapa kalau Kak Lila nggak mau pakek sekarang, nanti juga gapapa. Kalau Kak Lila mau pakek baju itu, aku juga bakal pakai baju sama kayak Kak Lila. Maksudnya baju gamis cowok. Hehe.^
Lila baru ingat hari ini hari ulang tahunnya. Ia tersenyum hangat dan penuh haru setelah membaca pesan dari Dodo.
"Ya ampun Dodo inget ulang tahun aku. Aku yang terlalu sibuk sama ngejar impian malah lupa. Sama sekali nggak inget. Jadi ini hari ulang tahun aku?"
Lila melihat jam dinding. Baru pukul sembilan malam. Itu berarti belum terlalu malam. Lila pun segera beranjak dari duduknya. Ia bersiap-siap ingin ke suatu tempat.
Ternyata Lila hendak ke rumah Dodo. Gadis dengan Hoodie hitam kebesaran itu berjalan cepat memasuki gang sempit tempat Dodo tinggal.
"Kudu traktir Dodo makan enak nih. Gapapa deh pakek duit tabungan lagi. Dodo udah baik banget sama aku sampai detik ini."
Rumah Dodo tampak sepi sekali. Lampu di depan rumahnya pun tak dinyalakan. Lila mendekati rumah itu dengan tatapan keheranan. Ia ketuk pintu rumah itu beberapa kali sambil menyebut nama Dodo.