Pengumuman hasil audisi akhirnya tiba juga. Lila duduk di depan laptopnya dengan harapan yang benar-benar besar sekali. Rasanya kedua lututnya melemas. Suhu tubuhnya mendadak panas dingin. Pada detik-detik pengumuman itu, Lila hanya bisa berdoa yang banyak.
"Ya Allah ... hamba mohon perkenankan hamba meraih impian hamba Ya Allah. Hamba ingin sukses dengan impian hamba, Ya Allah ...."
"Jika hamba sukses, hamba akan membahagiakan kedua orang tua hamba. Hamba akan memerdekakan diri sendiri dengan kesuksesan yang selama ini hamba perjuangkan. Hamba mohon, ya Allah."
Lila membuka email-nya. Namun, belum ada pemberitahuan yang masuk. Ia membuka berulang kali setiap lima sampai sepuluh menit jaraknya. Entah sudah berapa kali Lila membukanya, tetapi pengumuman belum ada juga.
"Ck, mana sih pengumumannya? Apa malam, ya? Nggak siang kali, ya?"
Lila memutuskan untuk menghibur dirinya dengan membuka sosial media. Berbagai video hiburan, kreatif, lucu, hingga para idol Korea bermunculan. Namun, entah mengapa algoritma Lila berubah. Tiba-tiba saja video ceramah lewat. Biasanya Lila akan langsung melewatinya, tetapi kali ini ia ringan untuk mendengarkannya. Lila pun mendengarkan dengan saksama.
"Kamu sedang berdoa dengan sungguh-sungguh kepala Allah, berharap dikabulkan, tapi yang kamu doakan itu sesuatu yang Allah tidak suka. Kamu itu ngapain? Kamu pikir Allah rela mengabulkan sesuatu yang tidak baik untukmu? Tidak. Allah tak akan mengabulkan itu jika Allah sayang sama kamu. Misalnya gini, 'Ya Allah tolong jaga pacar hamba. Tolong buat dia selalu sayang sama hamba, nggak ada yang lain selain hamba, dan hamba mohon jangan biarkan kamu putus' nggak tau diri kamu! Kamu nggak tau diri berdoa kayak gitu. Misalnya lagi kamu ... mohon maaf, kamu umpamanya menentang orang tuamu yang ingin memberikan yang terbaik untukmu. Lalu kamu berdoa supaya kamu bisa sukses sedangkan orang tuamu nggak ridho sama kamu. Mohon maaf, walaupun kamu sukses nanti, kesuksesan kamu nggak akan berkah. Nggak akan berkah. Jadi kamu—"
Lila segera menutup ponselnya, lalu melemparnya ke atas kasur. Lagi-lagi hatinya merasa tersentil. Lila mulai merasa tak enak hati. Namun, ia menggeleng dengan keras. Ia tak ingin kalah dari sisi hatinya yang lain.
"Enggak. Aku nggak terpengaruh oleh apapun. Apaan sih video kayak gitu tiba-tiba lewat. Tuh ustad nggak tau aja gimana keadaan aku sekarang. Ayah duluan yang melanggar janjinya buat dukung aku. Ayah yang salah. Ayah juga udah tampar aku. Nggak ngasih dukungan yang selama ini dia janjikan. Ustad kan cuma bisa ceramah, mana tau keadaan yang mendengar ceramah itu," ujar Lila sambil menghapus air matanya yang mengalir. Entah mengapa belakangan ini Lila begitu sensitif. Ia mudah mengeluarkan air mata yang membuat perasaannya terasa begitu perih.
Lila melupakan soal ceramah itu. Ia kembali membuka laptopnya. Satu pesan masuk ada email-nya kembali membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Lila menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Maka dengan keteguhan hati, Lila membuka pesan tersebut. Terpampang lah hasil pengumuman. Sebanyak dua puluh nama peserta yang lolos tertulis di sana.
"Semoga ada namaku. Lila ... mana Lila ...."