LILA dan BADUT LEBAH

Monacino
Chapter #22

22. ICON PENYEMANGAT

Sungai Han menjadi tempat yang dikunjungi Lila untuk menenangkan pikirannya. Ia menatap ke arah hamparan sungai yang luas dan dalam dengan beban batin yang sangat ingin ia tumpahkan saat ini juga. Lila menangis lagi, ia menunduk dengan Isak tangis yang menyedihkan. Semuanya terasa berat hingga ia merasa ingin menyerah saja.

"Manusia nggak boleh nyerah, kan? Manusia yang hebat pantang menyerahkan? Jadi aku nggak boleh nyerah. Tapi ... tapi kok berat banget, ya ...."

Lila merasakan ada seseorang yang berdiri di sampingnya.

"Kata siapa manusia tak boleh menyerah? Manusia berhak menyerah kok kalau jalan yang dia tempuh itu menyiksa dia secara lahir batin. Boleh jadi lho itu pertanda dari Tuhan bahwa jalan yang kamu tempuh ini nggak cocok buat kamu. Makanya kamu dikasih rintangan yang nggak berkesudahan. Kenapa kamu berpikir manusia nggak boleh menyerah?"

Lila menoleh pada pemuda di sampingnya. "Rino? Kamu di sini?"

Rino mengangguk. "Iya. Buat kamu. Ck, kok nggak dijawab sih. Tadi aku ngomong lho."

Lila kembali menatap ke arah depan dengan tatapan yang datar. "Buat apa? Aku nggak berpikir apa yang kamu ucapin tadi bener."

"Jadi menurut kamu ucapan aku salah?"

"Mungkin bener, tapi buat dirimu sendiri dan segelintir orang di luar sana. Bukan buat aku. Aku tetap memegang prinsip kalau manusia baik nggak boleh nyerah dan patah. Aku pasti bisa gapai apa yang aku impikan," sahut Lila tiba-tiba bersikap lebih tegar.

Rino menghela napas. Ia nyaris tak punya ide lagi untuk mengemukakan pendapatnya untuk meluluhkan hati gadis di sampingnya ini. Terlalu sulit dan keras kepala.

"Terus kamu tetap mau lanjut meski batin kamu tersiksa?"

"Iya."

"Meski kamu merugikan orang lain?"

Lila terdiam. Ia tahu ke arah mana ucapan itu. Sepertinya gosib tentang Lila yang menjadi biang masalah ada groupnya, sudah menyebar di group lain juga. Buktinya Rino tahu hal itu.

"Rino, kamu tuh siapa sih? Kok kamu tuh datangnya kek apa ya ... kek bener-bener mau nyeret aku buat nyerah gituloh," ucap Lila menatap lekat cowok di sampingnya dengan tatapan penuh selidik.

Rino memasukkan kedua tangannya di saku celana sambil menetralkan ekspresinya menjadi lebih santai lagi. "Ya aku peserta juga. Aku mau debut sebagai penyanyi solo. Udah jelas, kan? Aku emang punya kepekaan cukup bagus, makanya mau aku salurkan ke kamu. Salah, ya?"

Lihat selengkapnya