LILA dan BADUT LEBAH

Monacino
Chapter #25

25. PENGGEMAR SEJATI

Dada yang penuh rasa sesak dan kepala yang terasa berat karena pikiran buruk yang berdesakan masuk membuat Lila nyaris runtuh. Ia membereskan barang-barangnya dengan derai air mata yang deras. Rasanya sangat menyakitkan dan tiba-tiba. Lila tak pernah menyangka bahwa takdirnya akan seburuk ini. Bahwa perjalanan menuju impiannya akan sesakit ini. Tepat ada puncak perjuangan, Lila harus melepaskan semuanya. Ia menyeret koper itu keluar dari asrama, berjalan keluar gedung dengan pakaian yang serba tertutup.

Lila tak memiliki tujuan. Uangnya juga sudah sangat menipis. Gadis dengan Hoodie hitam kebesaran dan celana joger warna serupa itu berhenti di halte. Duduk di sana dengan wajah sembab dan pandangan yang menerawang. Tak ada yang ia pikirkan saat ini. Semua impian, perjuangan, dan harapannya bagai telah tersapu oleh banjir besar. Sekarang, Lila hanya memikirkan tentang hidupnya mulai saat ini. Di mana ia akan tinggal, bagaimana ia harus mencukupi kebutuhannya, dan apakah ia bisa pulang ke rumah?

Sebuah bus berhenti di hadapan Lila. Namun, ia Lila tak beranjak. Hanya menatap sayu bus itu. Ia bahkan tak tahu harus ke mana. Tiba-tiba seseorang menarik tangannya, lalu membawanya masuk ke dalam bus. Bus itu pun segera melanjutkan perjalanan.

"Rino. Kok kamu ada di sini? Survival kamu—"

Rino meletakkan telunjuknya di depan bibir Lila. "Ntar dulu. Kita cari tempat duduk dulu, baru deh ngobrol," katanya seraya menarik tangan Lila untuk mengikutinya menuju kursi yang kosong.

Mereka duduk di kursi belakang. Lila masih tak paham mengapa Rino berada di sini. Padahal acara Survival masih berlangsung.

"No, kamu jelasin sekarang," pinta Lila.

Rino tersenyum menoleh gadis itu. "Aku udah tampil kok. Cuma ya ... lagi-lagi demam panggung. Aku tuh punya trauma berdiri di atas panggung, Na. Makanya pas tampil, suara aku tuh getar banget dan pada akhirnya aku memilih mundur."

Lila melongo mendengar alasan pemuda itu. "Serius itu alasannya?"

"Iya. Serius."

"Terus kalau kamu udah tahu ada resikonya, kenapa kamu malah tetap ikutan Survival? Kamu padahal udah tahu bakal kejadian kayak gini."

Rino menghela napas sebelum melebarkan senyumannya. "Itu ada alasannya. Tapi kamu nggak boleh tahu sekarang. Intinya sekarang, aku tuh udah nyata didiskualifikasi dari Survival. Juri aja muak liat penampilan aku, La. Padahal aku udah dua kali lho ikutan audisi gini dan hasilnya tetap sama. Aku demam panggung. Tapi mungkin agensinya ini nggak tau aku tuh kayak gitu. Kurang up to date berita kali, ya."

Lila tersenyum kecut mendengarnya. "Kok kamu kelihatan happy aja sih? Kamu gagal lagi lho, No. Harusnya kamu tuh sedih kayak aku. Aku bahkan nggak sempat tampil. Eh, udah diusir aja. Emang gara-gara Mi Soo sih yang bikin masalah. Tapi aku merasa ini kesalahanku juga," ujarnya mendadak kembali sendu.

Rino merangkul Lila tiba-tiba, membuat gadis itu sedikit terkejut sambil menoleh pada pemuda di sampingnya. "La, ini jalan yang diberi sama Tuhan, lho. Berarti Tuhan sayang sama kamu, La. Doa orang tua kamu juga pasti diijabah."

Lihat selengkapnya