LILA dan BADUT LEBAH

Monacino
Chapter #26

26. BANDARA DAN MOMEN KUPU-KUPU

Sebuah basement sederhana yang ada di hadapan Lila sekarang ternyata kediaman badut lebah bernama Ina yang Lila temui waktu itu. Setelah Rino menekan bel, tak lama pintu dibuka oleh Ina. Tentu dengan kostum badutnya.

"Nah, Ina, masih ingat sama Lila, kan? Ingat dong," ujar Rino.

Badut lebah itu langsung memeluk Lila dengan lembut, lalu mengusap pundaknya. Seakan-akan sudah mengetahui apa yang terjadi. Begitu Ina melepaskan pelukannya, ia mendapati Lila yang menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.

"N-Na ... aku ke sini mau pamit sama kamu. A-aku ... aku gagal, Na. Aku gagal raih mimpi aku. Mungkin ... ini terakhir kali kita ketemu. T-tapi kamu jangan sedih. Nanti kalo aku sudah sampai di Jakarta terus ketemu sama Dodo, kita bakal video call, ya?"

Ina mengangguk. Ia membuat gerakan seperti menyuruh Lila menunggu. Lalu badut lebah itu masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu.

"Kok Ina masuk ya, No?"

"Mungkin ada sesuatu buat kamu."

"Tapi dia nggak nanyak lho. Apa dia udah tahu soal aku?"

Rino mengangguk. "Aku yang chat dia tadi. Aku bilang kita bakal pulang hari ini."

"Kamu ya, diem-diem udah punya nomor Ina aja. Nggak ketahuan sama sekali minta nomor dia," komentar Lila cemberut.

Rino hanya tertawa kecil. "Ya gimana. Aku lupa cerita kalau waktu pertama kali ketemu sama dia, aku minta nomornya biar ngasih tau sesuatu kalo emang kamu lagi sama aku."

"Kok gitu? Maksudnya kok kamu—"

Ina keluar dari rumahnya membawa sebuah kado. Ia memberikannya pada Lila. Tentu saja Lila tak menyangka. Ia menerima kado itu dengan perasaan yang terbaru.

"Ini buat aku, Na? Hadiah buat aku?"

Ina mengangguk. Ia menuliskan sesuatu pada buku kecilnya, lalu memberikannya ada Lila.

^Semangat terus ya, Lila. Aku yakin ini awal yang baik buat kamu. Kesannya memang kayak takdir buruk. Tapi sebenarnya enggak. Ini awal yang baik. Kamu bakal segera menjalani takdir baik kamu. Semangat! Suatu hari kita pasti akan ketemu. Aku bakal berkunjung. Dah, Lila!^

Lila tersenyum penuh haru. Ia mengangguk, lalu membungkuk hormat. "Aku nggak bakal lupain kamu, Na. Makasih buat semangatnya, ya. Aku harap kita bakal ketemu lagi nanti."

Kini giliran Rino yang ambil alih pembicaraan mereka. "Nah, mumpung kita kumpul di sini. Gimana kalau kita Selfi? Buat kenang-kenangan."

Lihat selengkapnya