Hari ini adalah hari di mana Lila kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahiran setelah menetap di Korea selatan selama kurang lebih satu bulan. Walau dengan waktu yang terlampau singkat, tetapi begitu banyak menorehkan kenangan yang akan Lila ingat semasa hidupnya. Lila tak akan pernah lupa, bagaimana ia dipatahkan oleh mimpinya sendiri. Tetapi janji Tuhan itu tak pernah melesat. Bahwa sesungguhnya setelah kesulitan itu pasti ada kemudahan yang akan diberikan hambanya. Jika dijabarkan, tentu banyak kemudahan yang Lila dapatkan.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Lila dan Rino memutuskan untuk makan dulu di warung makan dekat bandara. Hanya warung makan sederhana yang harganya masih bisa dijangkau dengan lapang dada ketimbang restaurant atau semacamnya.
"Selamat makan!" ucap mereka berdua dengan senang hati.
Lila menikmati makanan pertamanya di Indonsia dengan begitu nikmat. Padahal ketika di Indonesia ia sangat mendambakan masakan Korea. Tetapi setelah sampai di sana, ia juga merindukan masakan Indonesia. Rasanya tak ada duanya, Lila suka sekali makan nasi pecel dengan es teh seperti ini.
"Pelan-pelan dong, La. Nggak ada yang mau ambil," gurau Rino.
"Abisnya enak banget. Selain rasanya enak, terus makan nggak perlu table manner lagi. Lebih santai aja. Nggak sok jaim lagi kayak idol," sahut Lila.
"Iya sih. Kami juga dituntut buat perbaiki cara makan. Katanya paling enggak ketika masih merintis karir. Kalo udah terkenal banget ya gapapa mau nunjukin kebiasaan. Kan kalo udah sayang, ya pasti diterima apa adanya. Tapi aku nggak mau. Lagian aku makan juga nggak gerangas banget. Biasa aja," kata Rino ikut curhat soal pengalamannya selama di Korea.
"Ya itu. Mending jadi diri sendiri."
"Kamu kok kayak beda banget, ya? Kamu kayak nggak sedih lagi semenjak sampai di Indonesia. Emang kamu ikhlas secepat itu?" tanya Rino.
Lila mengunyah dengan pelan, lalu mengangguk dengan senyuman yang terpatri di bibirnya. Ia meneguk es teh yang terlihat menyegarkan untuk melegakan tenggorakannya sebelum kembali menjawab pertanyaan Rino.
"Sepanjang perjalanan terbang ke Indonesia, aku banyak berpikir, No. Tentang semua yang terjadi. Tentang ayah yang nggak restuin mimpi aku, aku yang kabur dari rumah, terus kerja di rumah makan jadi pencuci piring, nyanyi di kafe, terus aku ketemu Kak Fara, lanjut ketemu Dodo, kami ngamen bareng, aku tampil di panggung sebagai vocalist perngganti, sampai aku lolos audisi dan ke Korea. Pengalaman yang banyak itu aku dapatkan dalam masa pelarian aku untuk mengejar mimpi. Ada banyak banget pelajaran yang bisa aku petik, cuma akunya aja yang terlalu mengabaikannya. Seolah aku menolak hidayah yang mengetuk untuk masuk, karena aku takut hidayah itu bakal bikin aku nyerah sama mimpi aku sendiri, No. Jadi aku baru menerima hidayah itu di perjalanan tadi. Aku menerima hidayah yang datang, aku mulai berdamai dengan takdir aku, terus aku berencana untuk pulang ke rumah. Aku bakal pulang ke rumah untuk tinggal lagi bareng ayah dan ibu. Aku bakal nurut orang tua aku kali ini, No," tutur Lila panjang lebar.
Rino mengangguk dengan tatapan bangga pada Lila. Ia senang dengan pemikiran Lila yang sekarang. Rasanya ia ingin tersenyum selebar mungkin untuk menyambut keputusan Lila yang sangat tepat itu.