Lila dan Rino berjalan menuju ke rumah Dodo. Mereka hanya berjalan kaki karena jarak antara rumah Fara dan Dodo hanya berbeda gang saja. Mereka berjalan santai berdampingan sambil menarik koper masing-masing.
"Emang kamu nggak punya nomor telepon Dodo?" tanya Rino.
Lila menggeleng. "Aku nggak pernah liat dia punya HP, No. Aku pikir ya ... dia nggak punya. Mungkin sekarang udah beli buat komunikasi sama Ina yang ada di Korea, kan?"
"Bisa jadi sih."
"No, kamu yakin nggak mau pulang dulu ke rumah kamu? Mungkin orang tua kamu nungguin. Kamu pasti capek juga, kan? Daritadi kamu ngikutin aku gini apa nggak capek, No?"
Rino tersenyum sambil menggeleng. "Kamu aja nggak kelihatan capek, masa iya aku yang cowok ngerasa capek. Nanti aku pulang kok kalau kamu udah mau pulang ke rumah orang tua kamu. JadiĀ aku temenin kamu sampai kota ini aja."
Lila mengangguk setuju.
Akhirnya mereka sampai di rumah Dodo. Jantung Lila berdebar tak nyaman ketika rumah Dodo terlihat sangat sepi. Lila pun berjalan cepat menuju pintu, lalu mengetuknya cukup nyaring.
"Do! Dodo! Ini Kak Lila, Do. Kamu ada di dalam, kan?"
Tak ada sahutan dari dalam. Lila menoleh ke arah Rino dengan tatapan khawatir.
"Kenapa, La? Dodo nggak ada di rumahnya?"
Lila menggeleng. "Nggak tau, No. Gimana kalau dia pulang tanpa pamit kayak waktu itu? Aku sebel banget sama Dodo kalau dia beneran kayak gitu lagi," ujar Lila. Ia pun kembali mengetuk pintu dengan lebih kencang.
"Dodo! Dodo buka pintunya, Do!"
Rino ikut mengetuk pintu. "Dodo! Kamu ada di dalam, nggak? Pintunya tolong dibuka, ya."
Tetap tak ada sahutan. Hingga muncul tetangga sebelah yang pernah bertemu dengan Lila juga sebelumnya.
"Maaf, De. Adek nyari Dodo?"