LILA dan BADUT LEBAH

Monacino
Chapter #29

29. LILA KEMBALI

Lila sudah keluar dari stasiun kereta api setengah jam yang lalu. Namun, ia belum kebagian bus. Bus selalu saja penuh. Selalu saja ada orang-orang jahil yang ingin mendahuluinya. Jika berdesakan di dalam tempat sesempit itu, Lila tak mau. Napasnya akan ikut sesak nanti. Belum lagi kalau ada tangan yang jahil. Ingin naik taksi terlalu mahal. Lila ingin menghemat uang transportasinya yang sisa sedikit. Total hampir satu jam menunggu, akhirnya bus yang ditunggu datang juga. Kali ini bus tampak longgar. Jadi Lila bisa memilih tempat duduk yang nyaman.

Di sepanjang perjalanan Lila melanjutkan kegiatannya membuat lirik lagu yang tertunda di kereta api tadi. Moment ketika ia bersama dengan Rino adalah bagian terpenting pada bait lagu itu. Lila terus menggoreskan tinta pada kertas buku diarinya. Seolah musik tercipta sendiri di kepalanya, Lila dapat mendengar musik itu berpadu dengan lirik yang ia nyanyikan dalam hati. Indah sekali, Lila tersenyum hangat.

"Lagu buat kamu udah jadi, No. Aku harap kamu bakal suka ketika aku menyanyikannya nanti," gumam Lila tersenyum menatap lirik lagu itu.

Tatapannya beralih lada pakaian yang ia kenakan. Lila memakai pakaian gamis lengkap dengan hijab yang diberikan oleh Dodo. Lila menatap pantulan wajahnya pada layar ponselnya, lalu tersenyum. Benar kata ayahnya, ia memang lebih cantik jika mengenakan hijab seperti ini.

"Harusnya kamu nggak pergi gitu aja, Do. Aku kan pengin perlihatkan kamu kalau aku pakai ini. Kamu bilang kan ... kamu juga bakal buka kostum badut lebah kalau aku pakai ini."

Lila menyamankan duduknya, ia memejamkan mata sambil memeluk buku diarinya. Lelap itu mengantarkan Lila pada dunia mimpi yang indah. Hingga suara berisik lalu lalang orang yang beranjak dari tempat duduknya membuat Lila terbangun. Ia buka matanya dengan sedikit kaget. Buru-buru Lila membenahi hijabnya, lalu ikut turun dari dari bus tersebut.

Hari ini ditandai dengan hari di mana Lila siap membuang egonya yang selama ini ia junjung tinggi. Hari sudah malam, Lila baru saja menginjakkan kakinya di kota kelahirannya yaitu Sukabumi. Lila tak yakin apakah kehadirannya akan diterima dengan baik atau tidak. Apakah ayahnya akan memaafkannya atau tidak. Boleh jadi ia akan diusir dan disuruh menggapai mimpi itu lagi tanpa ingat dengan orang tua.

Meski dengan berbagai pikiran buruk di kepalanya, Lila tetap melangkah meninggalkan halte. Sebenarnya berjalan kaki pun bisa menuju ke rumahnya, sebab tak begitu jauh. Namun, energi Lila sudah terkuras habis hari ini. Belum lagi ia harus mempersiapkan mental di hadapan kedua orang tuanya nanti. Jadi Lila harus rileks dan memikirkannya dengan damai di perjalanan. Oleh sebab itu Lila memilih memesan taksi online saja untuk sampai ke alamat rumahnya.

'Semoga nggak ada yang nolak aku deh. Ya Allah ... hamba mohon permudahkanlah jalan hamba untuk meminta maaf sama ayah dan ibu, Ya Allah.'

Sepanjang jalan Lila hanya bisa berdoa dengan sungguh-sungguh. Ia berharap semua yang terjadi tak seburuk yang ada di pikirannya saat ini. Kurang lebih sepuluh menit berlalu, akhirnya taksi yang ja tumpangi sampai di depan rumahnya.

"Ini uangnya ya, Pak. Makasih."

"Sama-sama, Neng."

Lihat selengkapnya