LILA dan BADUT LEBAH

Monacino
Chapter #31

31. CERITA DARI PAK RAHADI

Lila menangis tersedu-sedu di pelukan ayahnya. Tubuhnya lemas karena fakta besar itu. Dodo yang selama ini bersamanya ternyata bukan Dodo yang asli, tetapi ayahnya sendiri. Pantas saja Lila merasa ia begitu nyaman dengan badut lebah itu. Rentetan ingatan tentang kebersamaan dirinya dengan Dodo pun mulai bermunculan. Tak ayal jika sosok Dodo dengan sigap menyelamatkannya hingga rela mengorbankan nyawanya sendiri. Kemiripan badut lebah itu dengan sosok sang ayah pun mulai Lila sadari. Ia merasa sangat bodoh karena tak peka akan hal itu. Bagaimana bisa ia sepolos itu? Lila tak menyangka dirinya gampang untuk dibohongi. Harusnya Lila sudah curiga sedari awal. Tepat ketika Dodo keluar dari rumah sakit waktu itu.

"Maafin Ayah yang sudah bohong sama kamu, La. Ayah melakukan hal itu karena Ayah nggak bisa biarin kamu sendirian merantau dengan usia semuda ini. Dunia luar sangat keras buat kamu. Kamu baru aja lulus sekolah. Di rumah kamu dimanja oleh ibumu, bagaimana bisa kamu langsung mandiri sendiri tanpa bekal apapun? Ayah yang merencanakan semua ini, La. Maafin Ayah," tutur sang ayah dengan tulus.

Lila menggeleng dalam pelukan itu. Air matanya terus saja mengalir. Dekapannya pada sang ayah pun semakin erat. "Lila yang minta maaf, Yah. Lila egois banget menentang apa yang Ayah larang. Lila udah egois menuruti kemauan Lila sendiri dan meninggalkan orang tua Lila demi mimpi yang tak pasti bisa terwujud. Apalagi tanpa restu dari orang tua. Lila juga udah buka hijab demi meraih mimpi itu. Lila menyesal, Yah. Lila sudah mendapatkan pelajaran berharga selama ini. Makasih udah mau menerima Lila kembali. Lila sayang Ayah."

Pak Rahadi tersenyum, lalu menguria pelukan mereka. Pria paruh baya itu menghapus air mata putrinya dengan jemarinya sambil tersenyum hangat.

"Anak Ayah ... Lila ... sangat cantik kalau berhijab dan berpakaian seperti ini. Kamu boleh menjadi penyanyi, asal dengan pakaian tertutup dan attitude yang baik. Ayah nggak ngelarang, Nak. Ayah dukung. Tapi dengan aturan yang Ayah tetapkan. Itupun demi kebaikan kamu sebagai putri Ayah dan Ibu yang paling kami cintai," kata Pak Rahadi.

Lila kembali terharu. Ia mengangguk dengan helaan napas besar. Rasanya Lila malu sendiri telah menganggap buruk ayahnya. Padahal ayahnya sebaik dan sehangat ini padanya. Lila benar-benar malu.

Dua orang baru saja datang. Lila menoleh pada dua orang itu. Mereka adalah Rino dan Karina. Pak Rahadi yang mengerti keadaan, langsung membantu Lila bangkit dari posisinya yang tadi bersimpuh di lantai.

"Lila, Ayah bakal jelasin semuanya ke kamu. Termasuk tentang Rino dan Karina. Kamu mau kan dengar tanpa menyela? Intinya semua ini Ayah lakukan demi kamu," kata Pak Rahadi.

Lila menoleh, lalu menganguk patuh. Lila pun dituntun menunu ruang tengah. Ia duduk di antara ibu dan ayahnya. Sementara Rino dan Karina ada di seberang mereka.

"Jadi mereka bagian dari rencana Ayah? Benar begitu?" tanya Lila.

"Ayah bakal jelasin, La," sahut Pak Rahadi.

"Lila dengerin," sahut Lila memfokuskan pandangannya seluruhnya pada sang ayah.

Pak Rahadi pun mulai bercerita. Mendadak ruangan itu menjadi senyap, hanya ada suara Pak Rahadi yang terdengar.

Lihat selengkapnya