LILA dan BADUT LEBAH

Monacino
Chapter #32

32. HADIAH DARI AYAH [ENDING]

Lila dan Rino berjalan di belakang rumah dengan langkah yang santai dan beriringan. Hingga mereka tiba di depan kolam ikan milik ayahnya Lila. Tak ada obrolan yang terjadi pada mereka hingga beberapa saat kemudian Rino membuka suara.

"Maaf ya untuk semuanya. Untuk sandiwara aku yang bantu ayah kamu buat jagain kamu. Tapi La, apa yang aku ucapkan itu nggak semuanya soal sandiwara. Ada banyak kata-kata kejujuran yang aku sampaikan ke kamu. Aku emang pura-pura jadi cowok friendly terus tiba-tiba deketin kamu. Tapi selama kita dekat aku tuh ... aku merasa kamu benar-benar partner terbaik yang pernah aku temui. Kita tuh kayak temenan udah lama. Kita nyambung, saling nyaman, dan pastinya satu frekuensi. Walau sandiwara ini udah berakhir, aku harap hubungan kita nggak akan pernah berakhir, La," tutur Rino.

Lila menoleh pada Rino dengan tatapan yang lebih lembut. Tak ada lagi raut wajah cemberut. Lila sudah bisa menerima semuanya sekarang.

"Iya aku maafin. Aku juga ngerasa kamu orang yang bener-bener tulus. Pokoknya ... makasih ya udah mau jadi sandaran aku selama masa sulit aku di Korea. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku rapuh banget sendirian di sana," ujarnya.

Rino tersenyum sambil mencondongkan wajahnya pada Lila. "Berarti kamu setuju dong hubungan kita nggak berakhir?"

"Y-ya kok berakhir? Kan kamu sepupu aku. Ya mau sepupu jauh kek deket kek ya sama aja. Mana mungkin ada hubungan keluarga berakhir," sahut Lila mengalihkan pandangannya dengan senyuman tertahan.

Rino beralih mengitari Lila, lalu berdiri di samping kanannya, arah di mana Lila memalingkan pandangannya tadi. Hingga pandangan mereka kembali bertemu.

"La, bisa nggak ya kalau kamu ...."

"Rino! Aku baru inget soal lagi yang aku bikin buat kamu. Aku bikin di kereta api lanjut di bus, lho. Gimana? Mau dengerin, nggak?" Lila langsung memotong ucapan Rino yang tampak ragu itu. Dari binar kedua mata gadis itu, Rino tahu bahwa Lila sedang menghindari sesuatu.

"Boleh. Tapi sebelum aku dengerin lagu itu, kamu dengerin dulu apa kata aku. Ada yang mau aku omongin, La. Kamu denger, ya?"

Lila meneguk salivanya susah payah. Ia perlahan mengalihkan pandangannya ke depan. Kepalanya mengangguk pelan setelahnya. Berusaha keras untuk membuat ekspresi yang jauh lebih santai.

"Ya udah ngomong aja. Aku dengerin," sahut Lila.

"La, kamu mau nggak ...."

Lila berdecak resah dalam hati. Ia ingin sekali melarikan diri dari sana. Raut wajahnya sudah menggambarkan betapa resah dan gugupnya ia.

'Ya ampun ... emang boleh ya secepat ini? Aku kan belum siap sama sekali. Terus ngejawabnya gimana dong nanti?' batin Lila.

"Duh, maaf lho kalau ngerepotin. Kamu mau nggak ngambilin charger aku di kamar bawah tangga? Aku nginap di sana tadi malam, La. Eh, lupa aku ngambil chargeran. Mau izin ke ayah kamu rada sungkan, tadi kan lagi seru-serunya cerita sama ibu kamu. Karina juga ceritanya nggak berhenti. Sungkan aku, La. Kamu aja ya yang minta kuncinya sama Pak Rahadi?"

Lila sontak saja menatap Rino dengan datar. Ia tak bisa berkata-kata untuk beberapa detik. Jantungnya yang berdetak dengan kencang kini berdetak dengan normal. Keresahan utu menguap ketika mendengar maksud dari ucapan Rino.

"Oh, charger, toh. Bentar ya, aku ambilin," kata Lila melongos pergi. Gadis itu mengumpat dalam hati sambil berjalan dengan cepat. Tanpa ia sadari bahwa Rino tertawa tanpa suara di belakangnya.

Lila menghadap ayahnya yang asik berbincang dengan Karina. Raut wajah Lila masih terlihat sebal. Gadis itu menjulurkan tangannya pada ayahnya.

"Minjam kunci gudang dong, Yah. Ini si Rino ketinggalan chargeran di sana. Katanya sih nginap di sana semalam. Tau deh bener apa enggak," celoteh Lila.

"Oh, bentar." Pak Rahadia mengoroh kunci di saku celananya, lalu memberikannya pada Lila. "Nih kuncinya. Lampu gudang mati, lha. Jadi kamu pakai sentar hape kamu aja, ya."

"Iya, Yah." Lila pun berjalan menuju kamar yang ada di dekat tangga.

Lihat selengkapnya