Malam selalu datang dengan cara yang sama di Panti Wreda Kasih Ibu.
Lampu-lampu lorong diredupkan satu per satu. Televisi di ruang bersama dimatikan. Suara langkah para perawat berganti menjadi bisikan pelan, seolah takut mengusik para penghuni yang mulai terlelap bersama kenangan yang semakin rapuh.
Nora menatap jam dinding.
Pukul sembilan tepat.
Ia membuka laci meja kecil di ruang perawat. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu berwarna cokelat tua. Catnya telah mengelupas di beberapa sudut, tetapi isinya selalu tertata rapi.
Tujuh batang lilin putih.
Ia mengambil korek api.
Sret...
Nyala pertama muncul.
Lilin pertama menyala.
Kemudian lilin kedua.
Ketiga.
Keempat.
Kelima.
Keenam.
Lilin ketujuh tetap belum disentuh.
Seperti malam-malam sebelumnya.
Nora menyusun keenam lilin yang telah menyala di atas sebuah nampan kecil, sementara lilin terakhir digenggamnya sendiri.
Ia melangkah menyusuri lorong yang sunyi.
Di balik pintu-pintu kamar terdengar dengkur halus, sesekali diselingi suara seseorang memanggil nama yang mungkin sudah lama tak lagi hidup. Di tempat ini, ingatan sering kali berjalan lebih jauh daripada tubuh yang renta.