Kamar nomor tujuh selalu menjadi kamar terakhir yang Nora datangi.
Bukan karena letaknya paling ujung, melainkan karena penghuni kamar itu membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang lain.
Bunda Aimah.
Usianya sembilan puluh tahun. Tubuhnya mulai rapuh, tetapi matanya masih menyimpan sorot yang teduh. Sesekali ia tersenyum pada orang yang baru ditemuinya, seolah mereka adalah sahabat lama. Di lain waktu, ia justru memandang anak-anaknya sendiri seperti orang asing yang salah masuk kamar.
"Selamat pagi, Bun."
Nora membuka tirai jendela. Cahaya matahari menerobos masuk, menghangatkan ruangan yang semalaman hanya diterangi lampu tidur.
Bunda Aimah menoleh.
"Wati... kau datang?"
Nora tersenyum kecil.
"Bukan, Bun. Saya Nora."
"Oh..."
Perempuan tua itu mengangguk pelan, seakan nama itu pernah singgah di kepalanya, tetapi terlalu cepat berlalu.
"Maaf... akhir-akhir ini Bunda sering lupa."
"Tidak apa-apa."
Nora mengambil sisir kayu dari meja kecil, lalu mulai menyisir rambut Bunda Aimah yang memutih. Gerakannya perlahan dan penuh hati-hati, seperti seseorang yang sedang merawat benda paling berharga di dunia.
"Rambut Bunda masih cantik."
"Benarkah?"
"Iya."
Bunda Aimah tersenyum. Senyum itu begitu tulus hingga Nora hampir lupa bahwa beberapa menit lagi perempuan itu mungkin tak lagi mengenalinya.
Di luar kamar, suara langkah kaki terdengar tergesa.