Lilin Untuk Minora

Vitri Dwi Mantik
Chapter #3

Orang Asing Yang Paling Setia

Mentari baru saja naik ketika halaman Panti Wreda Kasih Ibu mulai ramai.

Beberapa penghuni duduk di kursi roda menikmati hangatnya matahari pagi. Sebagian lagi berjalan perlahan menyusuri taman kecil dengan langkah yang tak lagi tegap. Di antara mereka, Nora berpindah dari satu lansia ke lansia lainnya, menyapa dengan senyum yang tak pernah absen.

"Selamat pagi, Pak Herman."

"Sudah minum obat, Bu Rina?"

Sapaan-sapaan itu terdengar sederhana. Namun bagi para penghuni panti, Nora bukan sekadar perawat. Ia adalah pendengar, teman berbincang, sekaligus tempat bersandar ketika anak-anak mereka terlalu sibuk untuk datang.

Begitu pula bagi penghuni kamar nomor tujuh.

"Bunda, sarapannya dulu."

Bunda Aimah menatap bubur ayam di hadapannya dengan bingung.

"Aku sudah makan?"

"Belum, Bun."

"Sudah, rasanya."

Nora terkekeh pelan.

"Kalau sudah, berarti ini sarapan yang kedua."

Perempuan tua itu ikut tersenyum, lalu menurut ketika Nora menyuapinya perlahan.

Dari balik pintu, Siska memperhatikan sambil menggeleng kagum.

"Aku heran, Mbak Nora."

Nora menoleh.

"Kenapa?"

"Bu Aimah selalu nurut kalau sama Mbak. Kalau sama kami, baru dua suap sudah marah."

Nora hanya tersenyum tipis.

"Mungkin Bunda merasa nyaman."

"Lebih dari nyaman, sih." Siska tertawa kecil. "Kadang aku pikir Bu Aimah menganggap Mbak keluarganya."

Lihat selengkapnya