Lilin Untuk Minora

Vitri Dwi Mantik
Chapter #4

Nama yang Terlupakan

Hujan turun sejak sore.

Butir-butir air memukul kaca jendela kamar nomor tujuh, meninggalkan jejak yang perlahan mengalir ke bawah. Aroma tanah basah menyusup melalui celah ventilasi, membawa hawa dingin yang membuat para penghuni panti memilih tetap berada di dalam kamar.

Nora sedang merapikan selimut ketika suara lirih memanggilnya.

"...Nora."

Tangannya berhenti.

Ia menoleh perlahan.

Bunda Aimah menatapnya dengan mata yang jauh lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya.

"Nora... benar kamu?"

Suara itu bergetar.

Untuk sesaat, waktu seperti berhenti.

Nora mendekat, lalu berlutut di samping tempat tidur.

"Iya, Bun. Ini Nora."

Bunda Aimah mengangkat kedua tangannya yang gemetar, menyentuh pipi Nora perlahan.

"Kamu sudah besar..."

Air mata Nora jatuh tanpa sempat ditahan.

"Iya, Bun."

"Ulang tahunmu... sudah lewat?"

Nora tersenyum di sela tangisnya.

"Sudah lama sekali."

Perempuan tua itu ikut tersenyum.

"Bunda belum sempat belikan kue..."

"Tidak apa-apa."

"Bunda janji tahun depan..."

Kalimat itu terputus.

Tatapan Bunda Aimah perlahan berubah kosong.

Kerutan di dahinya kembali muncul.

Lihat selengkapnya