Rumah baru itu jauh lebih besar daripada rumah yang ditinggalkan Nora.
Kamarnya luas. Mainannya lebih banyak. Pakaiannya selalu baru.
Namun, tak satu pun mampu menghapus rasa sepi yang ikut pindah bersamanya.
Malam pertama, ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk kotak kayu pemberian Bunda Aimah. Di dalamnya masih tersimpan sebatang lilin putih yang belum pernah dinyalakannya.
"Nanti kalau Nora kangen, nyalakan lilin ini."
Pesan itu terus terngiang di kepalanya.
Sejak malam itu, setiap ulang tahunnya, Nora menyalakan lilin itu seorang diri.
Ayahnya berusaha menjadi orang tua yang baik.
Ia mengajak Nora berjalan-jalan, membelikannya buku, bahkan mengundang teman-teman sekolah untuk merayakan ulang tahunnya. Namun setiap kali ditanya apa hadiah yang diinginkan, jawaban Nora selalu sama.
"Nora mau ketemu Bunda."
Ayahnya hanya terdiam.
Ia tahu permintaan itu tak mudah dipenuhi.
Hubungan dengan mantan istrinya telah lama berubah menjadi dinding yang sulit ditembus.
"Kalau sudah besar nanti," hiburnya.
"Nanti kapan?"
"Kalau waktunya sudah tepat."
Namun waktu terus berjalan tanpa pernah terasa tepat.
Tahun demi tahun berlalu.