Lilin Untuk Minora

Vitri Dwi Mantik
Chapter #9

Enam Bersaudara

Sudah hampir tiga bulan Nora bekerja di Panti Wreda Kasih Ibu.

Bagi penghuni panti, ia adalah perawat yang sabar. Bagi para pegawai, ia adalah rekan kerja yang jarang mengeluh. Namun bagi Bunda Aimah, Nora adalah satu-satunya orang yang mampu membuat hatinya tenang.

Setiap kali Bunda Aimah gelisah, hanya satu nama yang selalu dipanggil.

"Nora..."

Dan setiap kali Nora datang, perempuan tua itu perlahan tersenyum.

Minggu pagi, suasana panti sedikit berbeda.

Enam mobil berhenti bergantian di halaman.

Hari itu, keenam anak Bunda Aimah datang menjenguk.

Anak sulung, Harun, langsung menuju ruang administrasi. Disusul Ratna, Rudi, Lestari, Doni, dan Rina. Mereka datang hampir bersamaan, sesuatu yang jarang terjadi.

Ketika mereka memasuki kamar nomor tujuh, Bunda Aimah sedang duduk di kursi roda.

Nora sedang menyuapi bubur hangat.

"Selamat pagi, Bu," sapa Harun.

Bunda Aimah menoleh sebentar, lalu kembali membuka mulut ketika Nora menyuapkan sesendok bubur.

"Pelan-pelan, Bun," ujar Nora lembut.

"Masih panas."

Ratna memperhatikan dengan dahi berkerut.

"Ibu mau makan kalau disuapi dia?"

Perawat lain yang berada di kamar mengangguk.

"Kalau bukan Mbak Nora, sering kali Ibu menolak makan."

"Kok bisa?"

"Kami juga nggak tahu."

Harun saling berpandangan dengan adik-adiknya.

Tatapan mereka berhenti pada Nora.

Perempuan itu tampak begitu akrab dengan ibu mereka.

Terlalu akrab.

Saat Nora keluar membawa mangkuk kosong, ia mendengar suara pelan dari dalam kamar.

"Itu perawat baru?" tanya Doni.

"Bukan. Sudah beberapa bulan."

"Ibu kelihatannya dekat sekali sama dia."

"Namanya juga perawat."

"Tapi Ibu bahkan nggak pernah segampang itu sama kita."

Ruangan kembali sunyi.

Tak seorang pun menjawab.

Karena semua menyadarinya.

Lihat selengkapnya