Hujan baru saja reda ketika keenam anak Bunda Aimah berkumpul di ruang tamu panti.
Mereka tidak datang untuk makan siang bersama.
Bukan pula untuk menemani ibu mereka berjalan-jalan di taman.
Mereka datang karena sebuah telepon dari dokter.
"Kondisi Bu Aimah semakin menurun. Demensianya memasuki tahap lanjut. Keluarga sebaiknya mulai mempersiapkan segala kemungkinan."
Kalimat itu terus terngiang di kepala mereka.
Harun membuka pembicaraan.
"Kita harus mulai membahas harta Ibu."
Tak ada yang menyanggah.
Semua tahu pembicaraan itu cepat atau lambat akan terjadi.
Di ruang administrasi, map-map berisi dokumen mulai dibuka.
Rumah peninggalan almarhum ayah mereka.
Sawah di kampung.
Dua ruko yang disewakan.
Beberapa rekening tabungan.
"Kalau dijual semua, nilainya lumayan," ujar Doni sambil menghitung cepat di kalkulator.
Ratna mengangguk.
"Yang penting pembagiannya adil."
"Enam bagian."
Harun menatap adik-adiknya satu per satu.
"Setuju?"
Mereka mengangguk hampir bersamaan.
Enam bagian.
Tak seorang pun menyadari bahwa kalimat itu terdengar begitu mutlak.
Seolah Bunda Aimah memang hanya memiliki enam anak.
Di kamar nomor tujuh, Nora sedang menyisir rambut ibunya.
"Bunda cantik sekali hari ini."
Bunda Aimah tersenyum.
"Benarkah?"
"Iya."
"Apa anak-anak Bunda datang?"
"Datang."
"Lengkap?"
Nora terdiam sesaat.
"Lumayan lengkap."
Bunda Aimah memejamkan mata.