Kondisi Bunda Aimah semakin hari semakin menurun.
Ada hari-hari ketika ia lupa cara memegang sendok. Ada hari-hari ketika ia memanggil nama ibunya yang telah meninggal puluhan tahun lalu. Namun, ada pula saat-saat langka ketika ingatannya kembali jernih, seolah kabut yang selama ini menyelimuti pikirannya tersibak sesaat.
Dokter menyebutnya lucid moment.
Momen itu tak pernah bisa diprediksi.
Sore itu, keenam anak Bunda Aimah berkumpul di kamarnya. Mereka datang karena dokter mengatakan kondisi sang ibu melemah dan mungkin tak akan bertahan lama.
Harun berdiri di sisi ranjang.
Ratna menggenggam tangan ibunya.
Sementara Nora memilih berdiri di dekat pintu, seperti biasa, menjaga jarak.
Baginya, hari itu bukan tempatnya sebagai anak.
Ia hanya seorang perawat.
"Bu..." panggil Harun pelan.
"Bisa dengar kami?"
Perlahan, Bunda Aimah membuka mata.
Tatapannya menyapu satu per satu wajah yang mengelilinginya.
Harun.
Ratna.
Rudi.
Lestari.
Doni.
Rina.
Ia tersenyum tipis.
"Kalian datang..."
"Iya, Bu."
"Bunda senang."
Ruangan dipenuhi kelegaan.
Hari itu, Bunda Aimah mengenali semua anaknya.
Namun tiba-tiba perempuan tua itu mengernyit.
Matanya menyapu ruangan sekali lagi.
Seolah sedang mencari seseorang.
"Kurang..."
bisiknya.
Harun mendekat.
"Kurang siapa, Bu?"
Perempuan itu mengangkat tangannya perlahan.
Jarinya menunjuk ke arah pintu.