Lilin Untuk Minora

Vitri Dwi Mantik
Chapter #12

Penyangkalan

Malam itu, tak seorang pun segera meninggalkan panti.

Pengakuan Bunda Aimah masih bergema di benak keenam anaknya.

"Ini... anak bungsuku."

Tak ada yang berbicara selama beberapa saat. Hingga akhirnya Harun memecah keheningan.

"Ibu sedang kambuh."

Ratna mengangguk cepat.

"Benar. Dokter sendiri bilang ingatan Ibu sering bercampur."

"Jangan terlalu dipikirkan," timpal Doni. "Beliau bahkan tadi pagi memanggil Pak Rudi dengan nama almarhum Ayah."

Semua berusaha mencari alasan.

Semua berusaha meyakinkan diri.

Karena menerima kenyataan terasa jauh lebih sulit.

Di ruang administrasi, Harun meminta bertemu dokter yang menangani Bunda Aimah.

"Dok, kami ingin bertanya."

"Tentu."

"Tadi Ibu mengaku perawat itu anaknya."

Dokter mengangguk pelan.

"Saya mendengarnya."

"Itu hanya efek demensia, bukan?"

Dokter terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Demensia memang dapat membuat seseorang bingung terhadap waktu, tempat, dan orang."

Harun mengembuskan napas lega.

"Tapi..."

Dokter melanjutkan,

"...demensia juga sering menyisakan ingatan yang paling dalam. Terutama kenangan yang sangat membekas secara emosional."

Kalimat itu membuat wajah Harun kembali menegang.

"Jadi maksud Dokter..."

"Saya tidak bisa memastikan benar atau salah."

"Tetapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa pengakuan beliau hanyalah khayalan."

Di lorong panti, Ratna menghampiri Nora yang sedang mengganti vas bunga di depan kamar nomor tujuh.

"Mbak Nora."

Nora menoleh.

Lihat selengkapnya