Lilin Untuk Minora

Vitri Dwi Mantik
Chapter #13

Foto Lama

Pagi itu, hujan belum juga reda.

Harun kembali ke rumah peninggalan orang tuanya. Sudah bertahun-tahun rumah itu kosong. Ia berniat mencari beberapa dokumen yang mungkin diperlukan untuk mengurus surat wasiat Bunda Aimah.

Gudang di belakang rumah dipenuhi kardus-kardus tua yang mulai lapuk.

Di sudut ruangan, sebuah peti kayu menarik perhatiannya.

Peti itu terkunci, tetapi gemboknya sudah berkarat.

Dengan sedikit tenaga, Harun berhasil membukanya.

Di dalamnya tersusun rapi album-album foto lama.

"Ayah ternyata masih menyimpannya..."

gumamnya.

Ia membuka album pertama.

Foto pernikahan.

Foto kelahiran anak-anak.

Foto liburan keluarga.

Semuanya tersusun berdasarkan tahun.

Hingga sebuah foto kecil terlepas dari sela-sela halaman dan jatuh ke lantai.

Harun memungutnya.

Tangannya seketika membeku.

Seorang perempuan muda yang dikenalnya sebagai Bunda Aimah sedang memeluk seorang anak perempuan kecil.

Di atas meja, tampak kue ulang tahun sederhana dengan tujuh batang lilin.

Di belakang foto itu tertulis dengan tinta biru yang mulai memudar.

Harun membaca kalimat itu berulang kali.

Nora.

Nama yang sama.

Nama yang beberapa hari lalu dipanggil Bunda Aimah.

Nama perawat itu.

"Mustahil..."

bisiknya.

Tak lama kemudian, Ratna, Rudi, Doni, Lestari, dan Rina tiba setelah dihubungi Harun.

Mereka mengelilingi meja ruang tamu.

Harun meletakkan foto itu di tengah.

"Aku menemukannya di gudang."

Ratna mengambil foto tersebut.

Matanya membelalak.

Lihat selengkapnya