Lilin Untuk Minora

Vitri Dwi Mantik
Chapter #14

Anak Bungsuku

Langit sore memantulkan warna jingga di jendela kamar nomor tujuh.

Bunda Aimah duduk di kursi roda menghadap taman. Angin mengibaskan rambutnya yang telah memutih seluruhnya.

Di sampingnya, Nora merajut syal yang tak pernah selesai. Sesekali ia mengangkat wajah ketika Bunda Aimah memanggil namanya, lalu kembali merajut dalam diam.

Hari-hari seperti itu telah menjadi kebahagiaan sederhana bagi mereka.

Meski kadang ibunya lupa.

Meski kadang ibunya mengira Nora hanya seorang perawat.

Nora tetap memilih tinggal.

Sejak foto ulang tahun ditemukan, keenam saudara tiri tak lagi dapat menyangkal bahwa Nora memang pernah ada.

Namun menerima kenyataan ternyata jauh lebih sulit daripada mempercayainya.

Hubungan mereka masih canggung.

Harun beberapa kali ingin meminta maaf, tetapi kata-kata itu selalu tertahan di tenggorokannya.

Ratna lebih sering memperhatikan Nora dari kejauhan.

Rina mulai menyapa Nora dengan senyum yang lebih hangat.

Hanya Doni yang masih menjaga jarak.

Baginya, kemunculan Nora terlalu bertepatan dengan pembicaraan tentang warisan.

Keraguan masih menyelimuti hatinya.

Sore itu dokter datang memeriksa Bunda Aimah.

"Tekanan darahnya menurun."

Ia menutup buku catatan.

"Kondisi fisiknya semakin lemah."

Nora mengangguk.

"Bagaimana dengan ingatannya, Dok?"

Dokter tersenyum tipis.

"Kadang sebelum seseorang benar-benar pergi, ada saat ketika pikirannya menjadi sangat jernih."

"Apakah itu akan terjadi?"

"Saya tidak tahu."

"Tidak ada yang bisa memastikannya."

Harapan kecil itu kembali tumbuh di hati Nora.

Ia tidak meminta keajaiban.

Ia hanya ingin satu kesempatan.

Satu kali saja.

Malam mulai turun.

Seperti biasanya, Nora menyalakan enam batang lilin.

Api kecil itu menari pelan.

Kemudian ia membawa lilin ketujuh ke hadapan Bunda Aimah.

"Bunda..."

Perempuan tua itu memandang nyala api cukup lama.

Matanya berkaca-kaca.

"Tujuh..."

bisiknya.

"Iya, Bun."

"Tujuh lilin."

Tangan Bunda Aimah perlahan meraih lilin ketujuh.

Jari-jarinya bergetar.

Begitu api menyala, sesuatu berubah di wajahnya.

Tatapannya yang selama ini kosong perlahan menjadi bening.

Seolah kabut panjang yang menyelimuti ingatannya mulai tersingkap.

"Nora..."

Suara itu terdengar begitu jelas.

Nora menahan napas.

Lihat selengkapnya