Pagi itu, matahari bersinar hangat setelah berhari-hari hujan mengguyur kota.
Di kamar nomor tujuh, Bunda Aimah terbaring tenang. Tubuhnya semakin lemah. Napasnya pendek-pendek, tetapi matanya masih menyimpan kelembutan yang sama.
Dokter memeriksa denyut nadinya.
Lalu menoleh kepada keluarga yang berkumpul di luar kamar.
"Kalau ada hal yang ingin disampaikan kepada beliau, lakukan sekarang."
"Beliau masih bisa mendengar."
Kalimat itu membuat suasana menjadi hening.
Harun masuk lebih dahulu.
Ia duduk di samping ranjang.
"Bu..."
Air matanya jatuh tanpa sempat ditahan.
"Harun minta maaf."
"Selama ini Harun merasa sudah menjadi anak yang baik."
"Ternyata Harun bahkan tidak tahu Ibu pernah kehilangan seorang anak."
Bunda Aimah membuka mata perlahan.
Ia menggenggam tangan putra sulungnya.
"Jangan salahkan dirimu."
Suara itu begitu lirih.
"Kalian semua... juga korban keadaan."
Harun menangis.
Untuk pertama kalinya sejak dewasa, ia kembali merasa seperti anak kecil yang sedang memohon ampun kepada ibunya.
Satu per satu, keenam anaknya menghampiri.
Ratna meminta maaf karena pernah mencurigai Nora.
Rudi mengakui bahwa ia terlalu cepat menghakimi.
Lestari memeluk Nora sambil menangis.
Rina menggenggam tangan adik bungsunya itu untuk pertama kalinya.
Bahkan Doni, yang paling keras menolak, akhirnya berkata lirih,
"Maafkan Kakak."
"Aku terlalu takut kehilangan hakku."
Nora menggeleng pelan.
"Aku tidak pernah datang untuk mengambil milik siapa pun."
Jawaban itu justru membuat Doni semakin tertunduk.