Lilin Untuk Minora

Vitri Dwi Mantik
Chapter #16

Chapter tanpa judul #16

Sudah tiga hari sejak surat wasiat dibacakan.

Suasana di Panti Wreda Kasih Ibu terasa berbeda.

Tak ada lagi tatapan penuh curiga.

Tak ada lagi bisik-bisik yang mempertanyakan kehadiran Nora.

Kini, setiap kali keenam saudara datang menjenguk, mereka selalu menyapa perempuan itu lebih dulu.

"Selamat pagi, Nora."

Bukan lagi...

"Mbak Perawat."

Pagi itu, Harun membawa sebuah koper tua.

"Aku menemukan ini di loteng rumah."

Nora memandang koper berwarna cokelat yang sudut-sudutnya mulai terkelupas.

"Apa isinya?"

"Barang-barang Ibu."

Mereka membukanya bersama di ruang keluarga panti.

Di dalamnya tersimpan rapi berbagai benda yang dimakan usia.

Baju bayi.

Sepasang sepatu kecil.

Pita rambut.

Buku rapor lama.

Kartu ucapan ulang tahun.

Semuanya dibungkus kain putih agar tetap terjaga.

Nora mengambil sebuah pita merah yang mulai kusam.

Air matanya langsung mengalir.

"Bunda selalu memakaikan ini..."

bisiknya.

Bunda Aimah yang duduk di kursi roda memandangi benda-benda itu dengan mata berkaca-kaca.

Ia belum berbicara.

Namun jemarinya bergetar.

Seolah setiap benda sedang membuka pintu kenangan yang telah lama terkunci.

Di dasar koper terdapat sebuah amplop besar.

Di atasnya tertulis,

"Untuk anak-anakku, bila suatu hari kalian ingin mengetahui kebenaran."

Harun membuka amplop itu perlahan.

Di dalamnya ada beberapa surat.

Surat keputusan perceraian.

Surat hak asuh.

Beberapa lembar surat yang dikirim Bunda Aimah kepada mantan suaminya.

Semuanya belum pernah dibaca oleh siapa pun.

Ratna membuka surat pertama.

Tulisan tangan Bunda Aimah memenuhi halaman.

Surat berikutnya.

Surat ketiga.

Lihat selengkapnya