Fajar baru saja menyingsing ketika Nora terbangun oleh dering telepon dari panti.
Suara Siska di seberang terdengar lirih.
"Mbak Nora..."
"Iya?"
"Ibu Aimah meminta bertemu semua anaknya."
Nora langsung mengenakan jaket.
Entah mengapa, dadanya dipenuhi firasat yang tak mampu dijelaskan.
Kurang dari satu jam kemudian, kamar nomor tujuh dipenuhi orang.
Harun datang paling awal.
Disusul Ratna, Rudi, Lestari, Doni, dan Rina.
Mereka berdiri mengelilingi ranjang.
Bunda Aimah tampak sangat lemah.
Napasnya pelan.
Namun matanya masih terbuka.
Saat melihat ketujuh anaknya berdiri bersama, senyum kecil menghiasi wajahnya.
"Akhirnya..."
bisiknya.
"Lengkap."
Tak ada seorang pun mampu menjawab.
Air mata sudah lebih dahulu memenuhi mata mereka.
Dokter memeriksa perlahan.
Kemudian menoleh kepada keluarga.
"Beliau mungkin tidak memiliki banyak waktu lagi."
"Temani beliau."
"Itu yang paling beliau butuhkan."
Dokter dan para perawat keluar pelan-pelan.
Meninggalkan satu ruangan hanya untuk keluarga itu.
Harun berlutut di sisi ranjang.
"Bu..."
"Terima kasih."
"Karena sudah membesarkan kami."
Ratna menggenggam tangan ibunya.
"Maaf kalau Ratna sering keras kepala."
Rudi mencium kening ibunya.
"Terima kasih sudah mengajarkan kami bekerja keras."
Lestari mengusap air matanya.
"Bunda selalu rumah bagi kami."
Doni tak sanggup berkata apa-apa.
Ia hanya memeluk tangan renta itu sambil menangis.
Rina membisikkan doa di telinga ibunya.
Satu per satu anak-anak itu mengucapkan salam perpisahan.
Nora menjadi orang terakhir.
Ia berdiri beberapa langkah dari ranjang.
Seperti biasa.
Ia selalu merasa keenam kakaknya lebih berhak berada di dekat Bunda.
Namun tiba-tiba Bunda Aimah mengangkat tangan perlahan.
"Nora..."
Suara itu nyaris tak terdengar.