Lilin Untuk Minora

Vitri Dwi Mantik
Chapter #18

Pengampunan

Hujan turun perlahan saat iring-iringan pemakaman meninggalkan kompleks pemakaman umum.

Tanah merah yang masih basah menutup liang tempat Bunda Aimah beristirahat untuk selamanya.

Tak ada lagi suara doa.

Tak ada lagi isak tangis yang pecah.

Yang tersisa hanyalah tujuh anak berdiri mengelilingi sebuah pusara yang masih dipenuhi bunga melati.

Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh lima tahun...

Mereka berdiri sebagai satu keluarga.

Nora tetap berdiri paling akhir.

Tangannya menggenggam kotak kayu kecil yang sejak usia tujuh tahun selalu ia simpan.

Kotak itu berisi sisa lilin ulang tahunnya.

Lilin ketujuh.

Ia berlutut di depan pusara.

"Bunda..."

bisiknya.

"Aku datang."

"Aku pulang."

"Aku juga sudah mengantar Bunda pulang."

Air matanya jatuh perlahan ke tanah yang masih basah.

Namun kali ini, tangis itu tidak lagi dipenuhi kerinduan.

Melainkan rasa syukur.

Karena penantiannya telah selesai.

Harun menghampiri dari belakang.

"Nora."

Perempuan itu menoleh.

Harun menundukkan kepala.

"Aku ingin meminta maaf."

"Bukan hanya karena kami mencurigaimu."

"Tapi karena kami hidup begitu lama tanpa pernah bertanya..."

"...apakah Ibu pernah kehilangan seseorang."

Nora menggeleng pelan.

"Kak."

"Kita semua sama-sama tidak tahu."

"Tidak."

Harun menghela napas panjang.

"Kami tidak tahu karena kami tidak pernah mau tahu."

Kalimat itu menghantam keenam saudara yang lain.

Ratna memejamkan mata.

"Aku ingat."

"Dulu pernah mendengar tetangga membicarakan seorang anak yang dibawa pergi setelah perceraian."

"Tapi Ayah marah ketika aku bertanya."

"Sejak itu..."

"Aku tidak pernah bertanya lagi."

Rudi menatap nisan Bunda Aimah.

Lihat selengkapnya