Lilin Untuk Minora

Vitri Dwi Mantik
Chapter #19

Warisan Sejati

Empat puluh hari telah berlalu sejak kepergian Bunda Aimah.

Rumah tua yang dahulu terasa sepi kini kembali hidup.

Bukan karena seseorang tinggal di sana.

Melainkan karena setiap akhir pekan, ketujuh bersaudara selalu berkumpul.

Sesuai pesan terakhir ibu mereka.

"Jangan biarkan rumah ini kehilangan suara anak-anak."

Pagi itu aroma kopi memenuhi ruang makan.

Harun datang membawa roti.

Ratna memasak sayur lodeh, makanan kesukaan Bunda Aimah.

Rudi membersihkan halaman.

Lestari menata bunga di ruang tamu.

Rina menyapu teras.

Doni sibuk memperbaiki kursi tua yang mulai goyah.

Sementara Nora...

Diam-diam mengganti taplak meja dengan kain yang pernah dijahit Bunda Aimah bertahun-tahun lalu.

Saat semua selesai, mereka saling berpandangan.

Rumah itu terasa hangat.

Persis seperti yang selalu diceritakan Bunda Aimah.

Di ruang tengah berdiri sebuah lemari tua.

Harun membuka laci paling bawah.

"Aku menemukan buku ini."

Ia mengangkat sebuah buku bersampul cokelat yang mulai usang.

"Itu buku catatan Ibu," kata Ratna.

Mereka duduk melingkar.

Harun membuka halaman pertama.

Tulisan tangan Bunda Aimah masih terlihat rapi.

Bukan catatan tentang uang.

Bukan pula daftar aset.

Melainkan cerita-cerita sederhana tentang anak-anaknya.

"Hari ini Harun pulang membawa nilai bagus."

"Ratna diam-diam membuatkan teh ketika aku sakit."

"Rudi belajar naik sepeda lalu jatuh berkali-kali."

"Lestari menangis karena anak kucingnya hilang."

"Doni diam-diam memberikan uang jajannya kepada pengemis."

"Rina tidur sambil memeluk boneka hadiah ulang tahun."

Lalu...

Halaman berikutnya.

Tulisan itu berhenti cukup lama.

Baru kemudian muncul kalimat yang membuat semua terdiam.

"Hari ini aku kembali memimpikan Nora."

"Entah di mana anak bungsuku berada."

"Semoga ia tumbuh menjadi perempuan baik."

Nora memejamkan mata.

Lihat selengkapnya