Northwedia, kota yang penuh dengan kenyamanan dan kemegahan, bangunan metropolitan dan banyak rumah dengan pilar raksasa di satu sisi jalan, di sisi jalan yang lainnya adalah pemukiman kumuh tempat para buruh bekerja untuk para bos mereka. Valeria Lily, datang ke kota ini sebulan yang lalu dengan berbekal uang saku dari desa yang hanya menjadi uang makan siang bagi orang-orang berduit.
Ia paham, hidup di desa tidak akan sama dengan di kota, makanan yang serba mahal dan akses kota yang sangat cepat membuat gadis itu segera beradaptasi dengan cepat di kantor barunya sebagai seorang office girl.
Lily tinggal di pemukiman kumuh tak jauh dari tempat kerjanya, ia menyewa apartemen dan berbagi kamar dengan seorang gadis satu tempat kerjanya imanuel Jessika, yang kerap kali ia panggil Jessie.
Lily memiliki matanya yang bulat senada dengan rambutnya yang bewarna kuning keemasan, dan hidung bangir yang nampak seperti wanita kalangan atas, ia sering mengikat rambutnya seadanya sebelum bekerja.
Matanya selalu saja tertuju pada satu bangunan yang sangat megah menurutnya konon katanya itu adalah rumah gubernur yang menjaga kota Northwedia agar tetap aman, mobil mewah keluaran terbaru selalu keluar dari pagar rumah itu dan menjadi pemandangan sehari hari Jessi dan Lily karena apartemen mereka lumayan dekat dengan pagar rumah gubernur itu.
"Asiknya, jadi orang kaya" sahut seorang di belakang Lily, ia adalah Jessie—teman sekamar yang memiliki rambut indah seperti sirop mapel— yang sedang menyiapkan dua sup lezat berisi irisan daging babi kemarin sore dan kacang merah yang diberikan sedikit perasaan lemon dan daun mint.
"Ya... Menjadi kaya itu menyenangkan." Ujarku pada Jessie menghiburnya.
"Kau benar, makanan yang menunggu kita, tidak perlu memasak dan yang paling hebat lagi kau tau? Kau hanya perlu membuka mata saja semua tersedia." Lanjutnya.
Aku duduk dan menikmati sup dan roti panggang yang dibuat oleh Jessie, meskipun sederhana untuk menghilangkan lapar saja mungkin sudah cukup terlebih lagi rasanya lumayan enak.
Sembari mengenakan baju kerjaku aku mengigit roti panggang buatan Jessie perlahan. Aku teringat bahwa aku bisa tinggal di apartemen ini berkat bantuan Jessie karena dompetku diambil oleh copet. Jujur saja kala itu kami hanya sanggup menyewa satu kamar dan tidur di ranjang dua tingkap aku di bawah sedangkan Jessie berada di atas.
Aku menghabiskan sup ku dan Jessie menarik senyum simpul saat melihat ku makan dengan lahapnya. mata Jessie menatapku cukup dalam Ia sepertinya akan membahas topik yang cukup serius kali ini.
Jessie menatapku dengan saksama, "Lily, pernah kau mendengar mitos soal topeng kekayaan?" Tanya Jessie, aku tertawa menanggapi hal itu.
"Aku serius, katanya itu bisa bikin kita kaya." Lanjutnya kemudian, seluruh orang membahasnya belakangan ini.
Aku menepuk pundak Jessie mengangkat piring dan mangkuk ku untuk aku taruh di wastafel," hei, dengar! itu hanya bualan saja... sejauh ini tidak ada topeng seperti itu kalau ada aku mau satu, supaya aku kaya."
"Hari ini jadwal Kau cuci piring Jessie, Aku buru-buru." Ujarku membuat pipinya cemberut, namun ia tetap meyakinkan ku tentang keberadaan topeng itu, "sungguh, itu ada percayalah padaku.."
Aku melempar tatapan tak percaya pada Jessie, dan segera mengenakan sepatuku. "Sebaiknya kau kunci pintu dan jendela, lalu tidur." ujarku menutup pintu kamar kami dan bergegas menuruni tangga menuju pintu luar.
Rintik hujan perlahan membasahi kota Northwedia. Aku menaiki bus mengejar keterlambatanku walaupun pekerjaan yang ku geluti nampak remeh tapi gajinya setara dengan tiga bulan makan untuk sekeluarga. tentu saja aku rutin mengirimkan surel dan setengah gajiku ke ibu, sisanya ku tabung dan aku pakai bertahan hidup di kota.