Lily and the mask

Reveniella
Chapter #2

2'•Malam yang aneh

Aku segera menutup pintu, hampir membantingnya. Tubuhku menggigil, sementara jantungku berdebar tidak karuan.

"Itu... apa?" gumamku pelan.

Aku mundur beberapa langkah, berusaha menenangkan diri.

"Wanna join with us?"

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

"Mungkin cuma orang iseng yang ingin menjahiliku."

Aku memaksa diri berpikir logis lalu berjalan ke wastafel. Bubur kacang merah yang tersisa setengah mangkuk kutaruh di atas meja dapur.

"Nafsu makanku benar-benar hilang."

Aku mencuci tangan dan mengeringkannya dengan handuk dapur.

Tuk... tuk... tuk...

Suara ketukan pintu membuatku tersentak.

"Siapa?" tanyaku pelan.

Tidak ada jawaban.

Namun beberapa detik kemudian, ketukan itu berubah menjadi gedoran keras yang menggema ke seluruh ruangan.

BRAK! BRAK! BRAK!

Napasku tercekat.

Dengan tangan gemetar, aku mematikan lampu apartemen lalu melangkah perlahan menuju pintu. Setiap langkah terasa berat.

Aku mengintip melalui peephole.

Darahku seakan membeku.

Seorang pria jangkung berdiri tepat di depan pintuku. Ia mengenakan jubah hitam panjang dan membawa sebuah kotak kardus di tangannya. Wajahnya tertutup topeng putih dengan senyum lebar yang terlihat ganjil.

Aku menahan napas.

Meski terhalang pintu, aku masih bisa mendengar suaranya yang serak dan berdesis.

"Wanna join with us?" katanya pelan.

Bulu kudukku langsung meremang.

Perlahan ia meletakkan kotak itu di depan pintu.

Kemudian ia kembali mengetuk.

Kali ini lebih pelan.

Tuk... tuk... tuk...

"Aku akan menunggu kedatanganmu."

Suara itu terdengar nyaris seperti bisikan.

Beberapa saat kemudian, sosok itu berbalik dan berjalan menyusuri lorong apartemen hingga menghilang dari pandangan.

Aku baru berani bernapas lega setelah memastikan lorong benar-benar kosong.

"Orang gila..."

Aku mengusap wajahku.

"Pasti cuma orang iseng."

Beberapa menit kemudian, dengan hati-hati aku membuka pintu.

Kotak itu memang ada.

Tergeletak tepat di depan apartemenku.

Perutku terasa mual.

"Aku harus menghubungi security."

Dengan cepat kuraih ponsel dan menelepon petugas keamanan apartemen.

Sekitar lima belas menit kemudian, seorang petugas datang untuk memeriksa laporan tersebut.

Ia mengangkat kotak itu dan langsung mengernyit.

"Baunya aneh."

Aku ikut mencium aroma samar yang menusuk hidung.

Bau anyir.

Petugas itu menatapku.

"Apakah paket ini baru saja sampai?"

"Ya."

Tanpa menunggu lama, ia membuka kardus tersebut.

Di dalamnya hanya terdapat sebuah boneka baru dan sebuah telepon genggam.

Aku menghela napas.

Tidak ada hal mencurigakan lainnya.

"Hanya barang biasa," ujar petugas itu. "Meskipun baunya memang cukup menyengat. Saya akan mengecek rekaman CCTV dan menindaklanjuti laporan ini."

"Terima kasih."

Petugas itu membawa kotak tersebut pergi.

Pintu apartemen kembali tertutup.

Keheningan memenuhi ruangan.

Aku bersandar pada dinding dan mengembuskan napas panjang.

Untuk pertama kalinya malam itu, dadaku terasa sedikit lebih ringan.

Setidaknya semuanya sudah berakhir.

Atau begitulah yang kupikirkan.

***

Pagi menjelang, matahari seperti ditelan awan tidak memunculkan sinarnya. Aku terdiam sejenak, kejadian semalam terputar di otakku.

"Tidak apa-apa mari lanjut bekerja." Ujarku, sembari mengambil sapu dan kain pel. Membawanya ke lantai atas.

"Jam segini, belum ada orang yang datang." Celutuk ku sendiri saat melihat lantai atas yang biasanya penuh orang bekerja, malah sunyi seperti sekarang.

"Kalau aku jadi seorang bos, aku akan menyuruh pekerja ku untuk tidak malas karena waktu adalah uang."ujarku dengan mengebu, seseorang mengintrupsi diriku.

"Hei kamu," Panggilnya, pria yang mengenakan tuxedo hitam berdiri tepat di belakang ku dan aku segera menengok ke arah suara, wajahnya cukup tampan dengan mata yang terlihat tersenyum tapi tidak dengan garis lengkungan bibirnya.

"Bawakan kopi ke lantai atas, ruang kelima dari kiri. Taruh diatas meja." Perintahnya, membuatku segera mengangguk.

Aku tau siapa dia, tuan Raymond Houstein, pemilik perusahaan ini.

"Baik pak."

"Tambahkan sedikit susu dan juga bawakan madu." Tambahnya sebelum melangkah pergi. Aku meletakkan sapu dan pel ku lalu berjalan dengan sedikit tergesa menuju kearah dapur.

"Aku akan melaksanakan perintah atasan dengan baik kalau tidak gajiku di potong, ia terkenal amat displin dan perfeksionis.

Aku berjalan menuju wall cabinet dan mengambil bubuk kopi yang ada di dalamnya lalu meletakannya di luar. "Set cangkir putih saja biar serasi dengan kopi hitam, madu dan susunya."

Aku menyalakan menyeduh air di ketel dan membiarkannya beberapa saat. Pikiranku melayang ke kejadian semalam.

Teror itu membekas di pikiranku hingga aku merasa tak berdaya.

Sayangnya, aku tahu itu bukan mimpi.

Suara air yang mulai mendidih membuyarkan lamunanku. Aku segera menuangkannya ke dalam cangkir, mencampur bubuk kopi, lalu mengaduknya perlahan. Aroma pahit yang hangat memenuhi dapur.

Setelah menambahkan susu dan meletakkan madu ke atas nampan, aku menarik napas panjang.

"Fokus bekerja. Jangan memikirkan hal-hal aneh."

Aku mengangkat nampan itu dan berjalan keluar dari dapur.

Lorong kantor masih sepi. Hanya suara langkah kakiku yang terdengar memantul di antara dinding dan lantai marmer.

Tok.

Tok.

Tok.

Entah kenapa, suasana pagi itu terasa berbeda. Terlalu sunyi.

Lihat selengkapnya