Damar bukan pecinta kopi seperti manusia modern kekinian. Alasan utama karena asam lambung yang bisa naik ke ulu hati dan membuatnya sesak, alasan lain karena jengah harus duduk di kursi beraneka gaya dari kafe-kafe yang terus bermunculan layaknya jenis fungi. Tapi dia akan tetap duduk tegak di salah satu kafe viral area Blok M setiap seminggu sekali untuk menemani Olivia di akhir pekan. Hari sabtu yang harus menjadi hari kopi jika tak mau mendengar kekasihnya mengomel sampai berganti bulan.
Anehnya, senin ini dia tetap duduk tegak di kursi empuk yang dikelilingi nuansa kafe yang rimbun dengan dedaunan. Kafe ini ada di kawasan SCBD dekat kantor mereka. Memang tempat yang didesain nyaman untuk menghabiskan jam makan siang, tapi dia bukan orang yang rela jalan kaki dengan turun dari lantai dua puluh hanya untuk minum kopi.
Americano yang sudah dipesan Olivia untuknya juga masih utuh di meja. Damar tak berminat menyentuhnya, apalagi saat Olivia tak kunjung bicara sejak lima belas menit terakhir setelah perbincangan mereka. Dia kehilangan minat. Kopi hitam itu pasti pahit sehingga dia tak mau menambah rasa pahit di ujung lidahnya yang kebas setelah mendengar permintaan Olivia.
“Jadi, seperti ini kita akan berakhir?”
Damar bertanya, tapi hampir tak mendengar suaranya sendiri. Musik yang menggema di penjuru kafe berkompromi untuk menelan ucapannya. Sebuah musik indie sialan yang makin memperparah suasana dengan lirik-lirik sendu di antara dia dan kekasihnya—yang bakal menjadi mantan.
“Kita berbeda, Damar. Kamu bilang akan menghormati keputusanku,” Olivia berkata dengan tegas. Seolah ucapan itu sudah dihafal di luar kepala. Damar mengira mungkin Olivia sengaja mengulang-ulang alasan itu sebelum menghubunginya untuk turun ke kafe ini.
“Dan kamu bilang akan selalu mencintaiku,” elak Damar.
“Nggak lebih dari karirku. Kamu tahu itu.”
Damar mendengus. Meski dia sudah mengira hubungannya dengan Olivia akan berakhir sejak empat bulan lalu, dia tetap terkejut karena perkiraannya terjadi dengan cepat. Mereka memiliki banyak perbedaan, prinsip hidup, makanan kesukaan, minuman yang diminati, selera musik, genre film, bahkan latar belakang keluarga. Tetapi sudah tujuh tahun mereka bisa mengimbangi segala perbedaan itu dan berpikir tak masalah untuk terus saling mengimbangi sampai rambut mereka memutih. Mereka bahkan sudah sering membicarakan tentang tanggal pernikahan, bisa dilakukan tahun depan, katanya.
Hidung Damar berkedut. Punggung tangannya mengusap dua kali, lalu kembali mengetuk-ngetuk cangkir kopi. Olivia tak berbicara lagi, mungkin masih mengingat-ingat naskah hafalannya. Sedang Damar juga mengingat-ingat kalau empat bulan lalu dia tak mau memesan kopi saat kunjungan di kafe. Lalu menyimpulkan, mungkin karena itu Olivia jadi membencinya.
Olivia sering marah kalau dia tak memesan americano, tapi waktu itu dia baru lembur hingga tak sempat makan malam. Sarapan pun diabaikan karena dia bangun kesiangan dan buru-buru menjemput Olivia sebelum mengamuk. Damar hanya tak mau menyiksa organ lambungnya dan membuat mereka protes sampai harus dirujuk ke rumah sakit. Kalau sampai terbaring di rumah sakit, bisa berantakan pekerjaannya.
“Jadi, apa selama bersamaku menjadi penghambat untuk karirmu?” Damar masih berusaha mencari jawaban. Dia ingin memastikan kalau kopi bukan alasan sebenarnya mereka putus.
“Iya, karena kamu mau punya anak.”
Pembahasan mengenai anak yang tiba-tiba membuat dahi Damar berlipat-lipat. Punggungnya makin menegak.
“Kapan aku bilang mau punya anak?” sergahnya.
“Mulutmu nggak bilang. Tapi matamu itu!” Jari Olivia menunjuk bola mata Damar. Untuk sesaat Damar menahan napas karena merasa jari itu akan mencolok kedua bola matanya.
“Kenapa … mataku?” suaranya jadi agak lirih, masih takut kalau jari Olivia yang di depannya benar-benar menusuk retina.
Embusan napas rendah keluar dari mulut Damar saat jari Olivia akhirnya turun. Olivia mengibaskan rambut bergelombangnya dengan mata yang masih menatap Damar dengan teramat sinis.
“Matamu itu selalu bahagia kalau lihat anak kecil. Aku membencinya.”
Damar mulai berpikir ulang, sepertinya alasan putus karena kopi terdengar lebih masuk akal daripada karena mata yang menyiratkan bahagia.
“Mereka lucu, makanya aku suka,” tukas Damar.
Olivia menggebrak meja. “Karena itulah! Kamu suka anak-anak! Dan aku membencinya! Aku nggak mau punya anak selama menikah, sedangkan kamu … kamu pasti akan menuntutku untuk beranak!”
Mereka pernah mengobrolkan masalah ini, beberapa kali dalam sebulan malah. Namun, akhir perdebatan mereka tentang anak tak sampai berujung putus.
“Memiliki anak nggak akan menghambat karirmu,” ucap Damar. Sama seperti yang sudah-sudah. Dia bahkan pernah membuat presentasi tentang apa-apa yang harus dilakukan jika punya anak—menyewa babysitter, menitipkan ke daycare, dan dia akan selalu antar jemput anak mereka.
“Kamu selalu begitu!” Olivia kembali menggebrak meja. Permukaan kopi yang tenang berubah jadi beriak seperti terkena gempa.
“Kamu nggak akan pernah ngerti! Menjadi seorang ibu adalah akhir hidup bagiku! Banyak hal yang harus kulepaskan untuk hal itu!” pekik Olivia. Suara kerasnya mengundang tatapan dari beberapa pengunjung.
Mereka pasti sudah melebarkan kuping demi mencuri dengan pembicaraan, lalu menyajikan di ruang kantor dengan heboh, “Tadi gue lihat ada yang putus di kafe X!”
Tiba-tiba Damar berdoa agar tak ada staff yang sekantor dengannya di dalam kafe ini.
“Ada aku, Olivia. Kita bisa membesarkan anak bersama-sama, kamu nggak sendiri.”
Damar masih mencoba melunakkan hati Olivia. Dia mengelus punggung tangan Olivia. Perempuannya paling suka disentuh dengan penuh kasih sehingga dia berharap kali ini tetap berhasil.
“Damar, please. Aku sudah muak mendebatkan hal ini.”
Olivia menyingkirkan tangannya. Dia bahkan mengelap punggung tangannya seolah-olah baru saja terkena najis.
“Aku capek, Damar.”