Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #2

BAB 2. SUARA DALAM KEGELAPAN

Kuburan selalu menjadi tempat yang menyeramkan. Bayangkan saja, di dalam tanah itu tertimbun banyak manusia yang dulunya memiliki impian setinggi langit. Tetapi, pada akhirnya mereka harus tenggelam sampai ke inti bumi. 

Semua usaha. Semua harta yang dikumpulkan. Semuanya jadi kesia-siaan. Tidak ada manusia yang siap mati dan merelakan ambisinya untuk dunia meski tahu bahwa kematian menjadi hal yang paling pasti terjadi. Oleh karena itu, banyak pemuka agama yang sering memperingatkan, jangan sampai melupakan akhiratmu. Beberapa bahkan mencibir terang-terangan orang-orang yang sibuk bekerja, seakan-akan dia tidak mendapat uang dari ceramahnya di mimbar ke mimbar. 

Damar mendesah. Harusnya para pemuka agama itu juga memperingatkan manusia agar tidak melupakan keluarganya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Ferdi yang sudah tertidur di balik gundukan tanah basah bertabur kelopak bunga mawar, melati, kantil, kenanga, dan irisan daun pandan. Hm, mungkin Ferdi suka karena kuburannya wangi melebihi kamar tidurnya yang selalu terdapat bunga sedap malam di sebelah ranjang. 

Pemikiran itu sedikit menenangkannya dari kegundahan bahwa Ferdi pasti kedinginan di bawah sana. Hujan yang baru reda pasti membuat tubuhnya basah. Ferdi paling tidak suka dengan air dan dingin. Makanya mandi hanya sehari sekali, itu pun kalau ingat. Katanya, sinar matahari adalah hal paling indah di dunia ini. Memberi kehangatan dan kehidupan. Lalu dia akan menyahut, “Seperti Ayah dong.”

Ferdi kemudian tertawa dan mengusak rambutnya yang baru disisir rapi. Kejadian itu kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, tetapi kotak ingatannya seperti baru kemarin. Dia bahkan masih ingat warna baju yang dikenakan Ferdi—kaos merah, celana pendek jins nyetil dengan sandal kulitnya.

Karena dengan pakaian itulah Ferdi mengunjunginya di panti. Dia datang sebulan sekali bersama banyak jajan dan mainan untuknya dan anak-anak lain di panti asuhan. Banyak anak yang suka cari perhatian dengan meminta pelukan atau bermain bersama Ferdi agar dipilih menjadi anaknya. Perlombaan itu bahkan terasa lebih menegangkan daripada pemilihan Miss Universe. Sayangnya, Damar tidak pernah berminat untuk ikut. Dia yakin tidak akan ada keluarga yang mau menampungnya. Dia hanya anak culun yang jarang bicara. Tidak seceriah anak-anak kebanyakan. Juga tidak menarik dengan rupa yang tampan dan menggemaskan. Dia hanya anak bertubuh kurus kering yang terus-terusan bersin karena suhu dingin.

“Damar, Pak Ferdi menginginkanmu jadi anaknya.” 

Ketika Bu Sofya mengatakan itu, Damar sedang menenggelamkan wajahnya di buku cerita anak. Serta-merta buku itu melorot dan jatuh ke lantai karena matanya sudah penuh dengan senyuman Ferdi yang terarah kepadanya. 

Untuk kali pertama, tubuhnya menggigil saking senangnya. Dia berlari kencang ke arah Ferdi yang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan yang sudah terbentang, siap menerima landasan pelukannya.

Hangat.

Damar tak pernah merasa sehangat itu sampai-sampai dia mengantuk. Pelukan ayah barunya sudah seperti selimut tebal yang nyaman. Kemudian, Ferdi bilang jika dia akan membawanya pergi ke rumah. Tempat yang selama ini Damar idam-idamkan.

“Nama kamu sekarang Damar Wicaksana.” 

Damar yang waktu itu berusia tujuh tahun, menjawab dengan senyuman selebar lubang robekan di kain celananya. Dia bahagia karena akhirnya mendapatkan sebuah nama keluarga. Dan lebih bahagia lagi ketika Ferdi yang menjadi ayahnya. Hari itu untuk kali pertama dia merasakan indahnya kemenangan. 

Ferdi mengenalkannya tentang banyak hal kepadanya; tentang kebebasan boleh makan cokelat sepuasnya, kebahagiaan, serta cinta yang didapat dari ayah ke anaknya. Mereka pindah dari pelosok desa di Semarang ke Jakarta saat Damar mulai masuk SMP. Akan tetapi, mereka bersama di Jakarta selama empat tahun saja, karena Ferdi memilih kembali ke Pakopen, rumah mereka, dan tidak pernah menjenguk Damar yang masih menyelesaikan pendidikan. Damar harus hidup sendirian di Jakarta sejak berusia enam belas tahun. 

"Kenapa saat itu Ayah pergi?" Damar bertanya sembari menatap makam Ferdi dengan penuh hampa.

Damar selalu ingin mempertanyakan hal itu ketika Ferdi meninggalkannya begitu saja di Jakarta. Tanpa surat. Tanpa pesan pendek di obrolan whatsapp. Tapi dia tak pernah berani  untuk bertanya, karena di kepalanya telah merangkai jawaban jika Ferdi pergi karena tak lagi menyayanginya. Mungkin karena usianya sudah beranjak dewasa, jadi tanggung jawab yang diemban sebagai ayah sudah tidak berguna lagi.

Hubungan mereka merenggang sejak saat itu. Ketika dia masuk ke perguruan tinggi, Ferdi mengucapkan selamat dan menyuruh ke Semarang jika liburan semester. Namun, dia terlanjur sakit hati karena Ferdi yang pernah meninggalkannya tanpa alasan. Hingga selama tiga belas tahun, mereka sangat jarang bertemu, bahkan sekadar saling mengirim kabar lewat telepon.

Dan saat kematian tiba seperti ini, Damar mulai menyesali kenapa tidak menurunkan ego dan memupuk lukanya sehingga bisa sering-sering menjenguk ayahnya. Dia kembali menghela napas kasar. Menyangsikan pikirannya sendiri. Besok-besok dia pasti tetap enggan menghubungi ayahnya jika tidak ada kejadian seperti ini. Memang kematian mampu melunakkan hati yang sudah seperti batu menjadi butiran pasir. Buktinya, kini dia menangis dengan bahu naik-turun saat memandangi kuburan.

"Jangan pergi … Yah." 

Usianya sudah dua sembilan. Sudah terbiasa hidup sendiri sejak bayi sampai tujuh tahun. Lalu kembali mandiri sejak enam belas. Tapi tetap saja kematian ayahnya mampu membuatnya kembali seusia balita yang mudah tersedu-sedu saat hatinya lara.

Rasanya tidak adil jika orang sehangat Ferdi harus meninggalkan dunia ini di tengah hujan deras. Harusnya dunia mengantar kematian Ferdi dengan penuh kecerahan, bukannya dipayungi gumpalan awan mendung. Dia berharap bumi bisa memeluknya dengan hangat di bawah sana.

Lihat selengkapnya