Damar berjalan mondar-mandir di depan Rachel yang duduk manis di sofa dengan apel yang masih berada di tangannya. Sesekali Damar menoleh pada Rachel dengan penuh kebingungan dan Rachel akan membalas dengan menunjukkan senyuman manis.
“Jangan lihat aku sambil tersenyum,” tegur Damar, tapi Rachel malah semakin melebarkan senyum hingga dua gigi kelincinya ikut berseri-seri.
Damar mendengus. Dia berhenti melangkah dan berdiri di depan Rachel dengan menyilangkan kedua tangannya.
“Katakan padaku yang sebenarnya. Kamu siapa? Dan kenapa terus memanggilku ayah?” tanya Damar. Pertanyaan yang sama untuk ke sepuluh kali dalam tiga puluh menit terakhir.
“Karena kamu memang ayahku!” Rachel menjawab dengan penuh semangat. Tangan kanannya yang menggenggam apel naik ke udara seperti siap terbang saking bahagianya.
“Siapa yang bilang kepadamu kalau aku ayahmu? Aku bahkan belum menikah! Pernikahanku gagal!” seru Damar, tak sengaja meninggikan suaranya.
Rachel berjengit. Seketika Damar merasa bersalah karena sudah membuat Rachel terkejut. Senyum yang senantiasa menghiasi bibirnya juga menghilang. Dia sudah siap menangis dengan mata yang berkaca-kaca.
“Maaf karena sudah berteriak padamu,” ucap Damar sambil berjongkok di depan Rachel.
Rachel menarik masuk ingusnya, lalu mengangguk-angguk. Di jarak sedekat ini, Damar baru menyadari seberapa indah retina gelap yang dimiliki oleh Rachel. Mata itu membuat Damar terdiam barang beberapa saat.
“Matamu cantik,” puji Damar.
Rachel tersenyum, “Seperti mata ibuku.”
Ucapan Rachel membuat Damar mengernyitkan dahi. “Kamu bilang ibumu? Berarti kamu punya orang tua!”
“Iya,” Rachel menyahut dengan pendek. Mulutnya kembali sibuk mengunyah apel.
“Terus kenapa masih memanggilku ayah?”
“Karena kamu memang ayahku,” ulang Rachel.
“Astaga!”
Damar mengacak rambut ikalnya yang makin tak tertata. Pelipisnya mulai berdenyut-denyut karena tak kunjung mendapatkan ilham tentang asal-usul Rachel dan alasan kenapa dia terus kukuh memanggilnya ayah.
Ayah?
A-y-a-h.
Semakin sering dia mengeja panggilan itu di kepala, otot-ototnya makin ingin lepas.
Baiklah. Dia memang menginginkan anak. Bahkan keinginannya itu yang membuat hubungannya dengan Olivia berakhir. Tetapi bukan berarti ada anak dari langit yang sungguh-sungguh jatuh untuknya, kan? Bagaimana bisa memiliki anak tanpa pernikahan dan adopsi? Jika orang lain melihat kondisinya saat ini, kemungkinan besar malah dia yang dituduh sedang melakukan penculikan.
“Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang.”
Damar menyerah untuk menginterogasi Rachel dan mulai menarik lengan Rachel agar berdiri dari duduknya. Dia harus mengantar anak ini dengan cepat sebelum orang tuanya sadar kalau anaknya menghilang dan menuduhnya sebagai penculik sungguhan. Untung saja Rachel tidak memberontak dan menurut saat diajak berjalan menuju pintu.
“Rachel! Rachel!”