Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #4

BAB 4. MENCARI BENANG MERAH

Damar menatap satu per satu anak yang duduk di sofa di depannya dengan mata penuh selidik, sedangkan yang ditatap tetap menunjukkan mata penuh binar kepada Damar. Sofa panjang itu telah tak memiliki ruang tersisa karena mereka saling duduk berhimpitan.

“Sekarang, jelaskan padaku apa maksud kalian?” tanya Damar dengan nada suara yang lebih berat. Dia sengaja mengeluarkan aura dominan yang kental untuk menunjukkan jika dirinya benar-benar sedang serius dan tidak ingin mendengar gurauan.

“Aku sedang nggak bercanda. Bagaimana bisa aku tiba-tiba menjadi ayah kalian? Aku bahkan baru pertama kali ini bertemu kalian!” 

Kontrol suara Damar tidak bisa dikendalikan. Napasnya pun terus menggebu-gebu dengan denyut kepala yang makin berdentum-dentum. Dia sudah hampir meledak tetapi anak-anak itu masih menatapnya dengan penuh harap.

Ayolah. Dia sungguh masih bujang yang bahkan sedang kehilangan harapan hidup. Semua yang dia miliki telah hancur, tapi kenapa tiba-tiba ada lima anak yang datang padanya dengan mengatakan jika dia adalah ayah mereka?

“Tapi, Ayah Ferdi bilang kalau kamu akan jadi ayah kita setelah dia meninggal,” ucap Ari. Anak lelaki dengan tahi lalat kecil di bawah mata kanannya itu berkata dengan terus memeluk boneka beruangnya.

“Ayah Ferdi?” Damar mengerutkan dahinya karena kebingungan.

Kelima anak itu mengangguk. “Iya.”

“Ayah Ferdi? Ayahku?” ulang Damar.

“Iya. Dan ayah kami juga,” jawab Leo.

Damar terdiam. Dia mulai menghubungkan segala informasi yang didapat satu per satu menjadi secercah kesimpulan pendek bahwa semua kesalahpahaman ini dimulai dari Ferdi.

Adam yang duduk di paling ujung sofa menghela napas panjang ketika melihat Damar yang masih berpikir keras. Sebagai anak tertua, dia mengambil alih keadaan yang menjadi hening dengan menepukkan tangannya selama tiga kali sehingga fokus semua orang tertuju padanya.

“Waktunya tidur.”

Anak-anak membalas dengan gelengan kepala secara kompak.

“Aku belum mengantuk, Kak,” rengek Janu.

“Hm. Nggak boleh ada yang nakal. Sekarang waktunya tidur atau nggak ada es krim buat besok.”

Kata es krim membuat mata mereka dimasuki rembulan utuh. Secara serentak mereka turun dari sofa dan melompat-lompat kegirangan ketika berjalan menuju pintu belakang untuk keluar dari rumah.

“OKE!!! KITA TIDUR SEKARANG!!!” 

Janu berlari paling kencang, diikuti Rachel dengan langkah kakinya yang kecil-kecil namun cepat, Ari terlihat kesusahan berlari karena sambil memeluk boneka beruang yang cukup besar untuk seusianya hingga Leo membantu sambil memegangi punggungnya agar sang adik tak terjatuh. Mereka pergi dengan sangat teratur dan menghilang begitu saja dari mata Damar. Membuat kepala Damar kembali dipenuhi oleh tanya.

“Mereka pergi kemana?” tanya Damar kepada Adam pada akhirnya.

“Ke rumah, tentu saja,” jawab Adam dengan pendek.

Kerutan di dahi Damar makin bertambah. “Di mana? Aku kira mereka akan tidur di sini karena Rachel bilang jika ini juga rumahnya.”

“Memangnya kamu mau mereka tidur di sini?” 

Damar menggeleng cepat. “Tidak.”

Lihat selengkapnya