Damar tidak bisa tidur. Ya, memang sudah senormalnya begitu. Cukup dengan satu alasan bahwa hubungannya sudah kandas saja bisa membuatnya terjaga semalaman untuk merenungi percintaannya. Kini, dia memiliki dua … (pengunduran dirinya dari kantor) tiga … (ayahnya yang tiba-tiba meninggal, lalu empat …. (masalah tanggung jawab seorang ayah). Wah, bukan hal mengejutkan jika besok pagi dia ditemukan dengan kepala yang pecah!
Sebanyak apapun dia berusaha bersikap cuek, percakapannya dengan Adam terus berdenging di telinga. Obrolan mereka yang tidak berakhir bagus juga makin menambah kegusarannya.
“Itu bukan urusanku.”
Adalah tanggapannya setelah mendengar permohonan Adam agar dia menjadi ayah bagi adik-adiknya.
Adam mengangguk kecil, lalu berseloroh, “Aku tahu kalau Ayah Ferdi memang salah.”
“Apa maksudmu?”
“Dia selalu bilang kalau kamu orang yang baik dan terus membanggakanmu. Aku selalu meragukannya saat dia bilang kamu akan menjaga kami. Bagaimana bisa kamu menjaga kami di saat kamu bahkan nggak pernah pulang untuk menjenguk ayahnya sendiri?”
Sindiran telak dari Adam berhasil membuat Damar tak berkutik selama dua jam di ruang tengah. Dia baru masuk ke dalam kamar saat punggungnya pegal karena duduk lama.
“Kamu bahkan nggak ada saat dia menghembuskan napas terakhirnya.”
Kalimat penutup Adam terdengar sangat bengis. Hal paling menyebalkannya adalah dia berkata benar dan sesuai fakta lapangan. Saat besar nanti, Adam bisa menjadi HRD yang bisa menurunkan mental kandidat dengan ucapannya itu. Karena dia sudah berpengalaman menyudutkan orang dewasa sepertinya hingga kelabakan.
Selain ucapannya yang tajam, cerita Adam tentang kedatangan petugas sosial juga memenuhi sebagian besar lamunannya sekarang. Bayangan lima anak itu terjebak di panti asuhan terus menghantui. Rachel yang paling kecil itu pasti akan menangis berbulan-bulan. Kakaknya si Ari yang terlihat ringkih juga akan menghadapi kesulitan. Kalau Janu mungkin akan cepat berbaur dengan anak lain. Sedangkan Adam dan Leo … mereka mungkin tak akan tinggal di sana lama-lama karena saat menginjak delapan belas, maka diharuskan pergi.
Mereka akan meninggalkan adik-adiknya. Lalu, bagaimana jika salah satu adiknya diadopsi dan akhirnya mereka saling berpisah? Dulu dia memiliki teman sepanti yang kembar, Dian dan Dina. Sampai akhirnya Dian diadopsi sehingga Dina sakit demam dua bulan lebih.
“Itu bukan urusanku. Itu bukan urusanku.”
Damar menepuk-nepuk kedua pipinya untuk mengusir pikiran-pikiran aneh itu. Dia meraih bantal di sampingnya untuk menutupi telinga, lalu tidur menghadap tembok. Usahanya untuk menghilangkan suara-suara berisik tidak berguna karena dia tahu kalau suara itu berasal dari kepalanya sendiri. Akan tetapi, dia berusaha semaksimal mungkin untuk menenangkan pikirannya dan jatuh tidur.
“Ayah!”
Damar melempar bantal di tangannya ketika teriakan Rachel, Janu, Ari, dan Leo terdengar begitu nyaring di kepalanya.
“Astaga ….”
Damar mendengus dan terbangun dari tidurnya. Dia menyerah untuk mencoba terlelap karena suara-suara dari anak-anak itu terus terekam dengan jelas di benaknya.
“Ayah berpesan jika kamu akan datang pada kami dan menjadi ayah kami, penjaga kami.”
Damar mengacak rambutnya lagi. Membuatnya terlihat seperti orang yang tidak keramas enam hari. Di sebelah tempat tidurnya, terdapat pigura foto dirinya dengan sang ayah yang di ambil di hari kelulusannya dari sekolah dasar. Foto itu masih terpajang di meja nakas dengan amat rapi seperti sebelum dia pergi dari rumah ini. Ketika tangannya terjulur untuk mengambil foto itu, dia cukup heran karena tidak ada tumpukan debu di permukaan kacanya.
“Yah, kenapa kau melakukan ini padaku?”
Telunjuk Damar menyentuh wajah ayahnya yang sedang tertawa di dalam foto.
“Aku bahkan nggak bisa merawat diriku dengan baik, bagaimana bisa aku menjaga mereka?”
Di foto itu Ferdi sedang menggendongnya di pundak. Dia tidak pernah tahu kalau wisuda SD akan semembahagiakan itu. Mungkin waktu itu dia tertawa karena ucapan Ferdi yang mengatakan bahwa mereka akan pindah ke kota besar. Ke Jakarta. Katanya karena Ferdi sudah berjanji akan memberikan pendidikan terbaik kepadanya. Jika saja dia bisa membaca masa depan, dia pasti akan menangis saat mendengar Ferdi mengatakannya karena itu menjadi titik balik renggangnya hubungan mereka.