Rachel membuka matanya tepat setelah Damar keluar dari puskesmas. Saat itu Adam berdiri di balik jendela untuk mengecek apa Damar sudah kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia baru kembali ke sisi ranjang Rachel saat mobil hitam itu sudah meninggalkan area parkir.
“Kak ….”
Adam langsung melompat mendekat ke wajah Rachel yang masih dilindungi tabung oksigen. Mata Rachel masih sayu. Suaranya pun hampir tak terdengar jika Adam tidak meletakkan telinganya ke depan mulut Rachel.
“A—yah ... mana?”
Pertanyaan itu sudah bisa diperkirakan Adam, jadi dia membalas dengan senyuman, lalu mengelus rambut Rachel saat menjawabnya.
“Dia lagi ada urusan, nanti akan kembali lagi.”
Adam benci berbohong, tapi hanya kebohongan yang bisa menyelamatkan adiknya kali ini. Keadaan Rachel sudah cukup menyedihkan, dia tidak mau Rachel harus merasakan tekanan di dadanya karena terlalu sedih hingga asmanya kambuh lagi. Dia juga masih takut Rachel tiba-tiba berlari kencang seperti tadi saat mengejar mobil Damar.
Rachel, begitu juga dirinya dan ketiga adiknya yang lain, sangat tak menyukai rumah sakit. Rachel sudah berkali-kali dirawat di rumah sakit karena penyakit bawaan dari lahir. Sedangkan dia dan adik-adiknya yang lain sering ke rumah sakit untuk merawat mendiang ibu yang asmanya juga beberapa kali kambuh. Ibunya sering berkata kalau dia bersyukur penyakit genetik itu tidak menurun ke anak-anaknya, sampai akhirnya lahirlah anak ke lima, si bungsu, si anak perempuan yang diidam-idamkan harus memikul penyakit itu.
“Apa dia nggak jadi pergi?” Rachel masih bertanya, dengan napas yang pendek-pendek.
“Enggak. Kamu istirahat aja, nanti dia bakal kembali.”
“Beneran?”
“Iya.”
Membohongi anak kecil perkara gampang-gampang susah. Sebagai orang yang memiliki usia lebih tua, dia hanya perlu menunjukkan wajah seriusnya agar dipercaya. Tapi kemudian dia harus memberikan alasan yang masuk akal agar anak kecil tidak menangis saat kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Rachel si anak baik memilih untuk percaya kepada kakak sulungnya. Dia kembali tidur untuk beberapa waktu, lalu Adam menghadap ke dokter untuk segera mengecek keadaan adiknya.
Dokter melakukan perawatan intensif dan observasi lebih lanjut terhadap keadaan Rachel meski Rachel sudah siuman dari pingsannya. Observasi ini bisa memakan waktu kurang lebih enam jam untuk menentukan apa perlu dirawat inap dan itu artinya harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Rachel pasti menangis jika dia harus menghabiskan waktu lebih lama di rumah sakit, jadi Adam berdoa dengan sangat bersungguh-sungguh agar Rachel tidak merasa sesak dan deru napasnya kembali normal.
Leo datang saat azan dhuhur akan berkumandang. Adam sengaja menghubungi pihak sekolah Leo di jam sebelas karena meminta Leo menjemput Janu dan Ari di sekolahnya. Dia harus pulang lebih awal, lalu mengantar adik-adiknya pulang ke rumah. Tetapi Leo ngotot untuk datang ke puskesmas. Jadilah sekarang UGD itu tampak lebih penuh dengan keberadaan tiga anak lain.
“Rachel kenapa?”
“Rachel sesak lagi, ya?”
“Ayah kemana, Kak?”
“Apa ke kamar mandi?”
“Kita susul yuk!”
Sebelum Janu mengajak Ari menuju kamar mandi umum di sebelah UGD, Adam buru-buru menarik dua adiknya itu agar diam di tempat. Mereka berdua kalau mengobrol memang seperti burung beo, terus bersahut-sahutan dan tidak bisa dihentikan.
“Jangan kemana-mana di sini saja,” ucap Adam.
“Aku mau lihat Ayah!” seru Janu.
“Ayah nggak di kamar mandi. Lagi keluar.” Kebohongan kembali memasuki sandiwara.
“Kemana?”
“Ada urusan.”
“Urusan apa?”
Adam melirik kepada Leo, meminta bantuan untuk menjawab bombardir dari Janu. Dia sudah menjelaskan seluruhnya kepada Leo karena merasa Leo sudah cukup mengerti situasi karena sudah dua belas tahun.