Akan ada saat dimana seorang manusia mengalami kebingungan besar dalam menentukan masa depan. Biasanya terjadi di fase akhir SMA dengan berbagai pertimbangan masuk universitas mana dan program jurusan apa yang mampu membawa ke pekerjaan terbaik. Damar sudah melewatinya sepuluh tahun yang lalu. Dia tidak menyangka akan mengalaminya lagi sekarang.
Mobilnya terus melaju dengan mulus. Jika terus menekan gas ke jalanan yang lurus, dia akan sampai ke jalan besar yang akan membawanya ke cabang jalan lain sampai ke Jakarta. Kakinya sudah di atas gas, tapi tangannya malah membanting setir untuk memasuki gang.
Dia terdiam untuk waktu yang cukup lama di balik kemudi, sebelum akhirnya keluar bersama koper yang sebelumnya ditata di bagasi. Dia juga masih berdiam lama di dalam kamar. Berpikir dan berpikir sampai akhirnya memutuskan akan tetap di Semarang untuk sementara waktu.
Dia merasa keputusannya sudah tepat saat mendapatkan pelukan dari tiga kecil (dia sudah memutuskan memanggil Janu, Ari, dan Rachel sebagai tiga kecil). Hatinya penuh dengan kehangatan saat anak-anak menyantap makanannya dengan lahap, kecuali si sulung yang setia dengan kebisuannya.
“Waktunya istirahat,” tegas Adam.
“Aku masih mau main sama Ayah!” Rachel mengelak, tapi tetap tidak berontak saat Adam menggendongnya.
“Kita harus bertemu dokter lagi besok. Jadi harus istirahat.”
Rachel melingkarkan tangannya di leher Adam seperti koala. Janu dan Ari turun dari kursi dan berniat mendekati Damar, tetapi Adam sudah lebih dulu memanggil mereka.
“Kalian juga masuk kamar. Kerjakan PR dari sekolah.”
“Kami bisa minta tolong Ayah buat bantu PR—”
“Masuk kamar sekarang.”
Janu tidak berani bersuara lagi setelah mendengar Adam. Dia menarik Ari untuk berlari memasuki kamar nomor dua yang terletak di dekat ruang tengah, disusul Adam, Rachel, dan Leo masuk ke kamar sebelahnya.
Menyisakan Damar yang mulai membersihkan piring-piring dan gelas kotor di dapur. Setelah ini, dia berencana kembali ke rumah sendiri sebelum—
“Kita perlu bicara.”
Kran di wastafel baru dimatikan saat Adam berdiri di belakang Damar.
“Kenapa kamu kembali?” tanya Adam, tanpa berbasa-basi.
Damar terkekeh, berusaha meleburkan ketegangan di wajah Adam tapi gagal total saat Adam malah melotot padanya.
“Karena Rachel pasti menangis saat bangun dan mencariku.”
“Aku bisa mengatasinya. Ada seribu alasan di dunia ini yang bisa digunakan.”
“Tapi dia habis sakit, nanti kondisinya makin memburuk.”
Adam menggeram. Damar mundur selangkah sampai kakinya sempurna menempel di meja dapur.
“Pada akhirnya, kamu juga akan tetap menyakiti Rachel karena kepergianmu. Aku yakin kamu tetap bakal pergi, kan?” serang Adam.
Damar diam karena dia merasa menjadi orang berdosa jika mengangguk meski jawabannya memang benar. Adam kembali menggeram, kali ini dengan tangan mengepal. Damar makin takut kalau anak remaja ini sungguhan menonjoknya.
“Kamu pergi sekarang ataupun nanti, bakal sama saja. Dan aku memilih sebaiknya kamu pergi sekarang juga.”
Adam segera berbalik setelah ucapannya final. Dia tak segan untuk menunggu jawaban Damar karena merasa tak perlu. Jika Damar masih memiliki akal sehat, dia pasti mengerti, pikirnya.
“Wah, anak yang menyeramkan,” gumam Damar setelah Adam kembali ke kamar.
Damar berjalan menuju ruang tamu. Dia harus mengunci pintu utama karena sepertinya para penghuni tidak akan keluar kamar lagi karena otoriter kuat dari Adam.
“Ayah.”
Meski tebakan Damar salah karena ada Leo yang berani keluar untuk menyapanya. Dia mulai menilai kalau Leo anak yang pemberani karena dia tidak tunduk pada perintah Adam, padahal dia sekamar dengan Adam.
“Hai. Aku baru kunci pintu. Kamu sama Adam harus selalu ingat buat kunci pintu. Tadi rumahnya nggak dikunci, makanya aku bisa nyelonong masuk. Untung ini aku, kalau ada maling gimana?”
Selain anak pemberani, Damar menilai Leo sebagai anak yang aneh. Karena bagaimana mungkin dia malah tersenyum malu mendengar celotehannya? Dan jika dipandang lebih lama, dia bisa menemukan riak air mata yang tersembunyi. Jadi, Leo ingin tertawa atau menangis?
“Kamu kenapa?” tanya Damar pada akhirnya.
Leo menggigit bibirnya sambil menatap takut-takut. “Tadi Kak Adam bilang, kalau Ayah akan pergi. Ayah nggak mau menjadi ayah kita.”
Damar terdiam. Dia tak bisa mengelak ucapan Leo karena dia memang masih tak berniat mengubah keputusannya. Keputusannya untuk kembali menemui mereka karena rasa khawatirnya pada Rachel. Dia juga merasa bersalah karena dialah penyebab Rachel jatuh sakit, sehingga setidaknya dia harus tetap berada di sisi Rachel hingga anak kecil itu sembuh.
“Jadi, Ayah beneran mau pergi ya,” celetuk Leo karena Damar yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Damar mengangguk kaku. "Iya.”