Lelap masih enggan menjadi temannya meski Damar sudah berbaring selama empat jam. Matanya sudah pura-pura terpejam setelah pulang dari bermain basket dengan Leo, tapi sebesar apapun usahanya tetap tak bisa terbuai ke alam mimpi. Di kepalanya hanya dipenuhi dengan isakan Leo, juga tatapan polos dan penuh pengharapan dari anak-anak.
Apa dia menyesal karena telah kembali ke rumah ini? Sepertinya iya. Padahal dia hanya berniat untuk menghibur Rachel, tapi lihatlah sekarang... dia kembali dibingungkan dengan keputusan memilih pergi atau tetap tinggal.
Damar menyerah dengan usaha untuk tidur kala mendengar suara ayam yang mulai berkokok dan saling bersahutan. Sudah bertahun-tahun dia tak menyambut pagi dengan suara alam. Selama di sini, dia tak membutuhkan alarm lagi untuk mengetahui waktu pagi.
“Ayah! Ayah!”
Damar tersentak saat pintu kamarnya diketuk dengan cukup keras, ditambah dengan panggilan yang masih tidak familiar bagi indera dengarnya.
“Mereka kok bisa masuk sih? Perasaan sudah dikunci semua pintunya,” gumam Damar sambil mengingat-ingat bahwa semalam dia benar-benar sudah memastikan semua pintu di rumahnya terkunci rapat.
“Ayah! Bangun! Udah pagi!” Suara Rachel melengking tinggi, diikuti dengan Janu yang berseru tak kalah keras, “Ayah! Banguuuunnn!!”
Damar mengernyitkan alisnya saat mendengar kebisingan itu, tapi bibirnya membentuk seulas senyum tanpa sengaja. Hingga dia harus menampar pipinya sendiri saat sadar tengah tersenyum ketika membayangkan betapa gemasnya Rachel dan Janu yang sedang menunggu di depan pintu kamar.
“Ayaa—”
Sebelum teriakan selanjutnya terulang, Damar segera beranjak dari kasur dan membuka pintu. Rachel dan Janu berdiri dengan senyuman lebar saat melihatnya, diikuti oleh Ari yang sedang menutup rapat-rapat kedua telinganya karena risih dengan teriakan dua kecil.
Wajahnya yang semula dipasang dengan tegas hampir-hampir tak bisa menahan tawa melihat betapa gemasnya mereka. Namun, dia berusaha untuk tetap membuat air muka dingin di depan anak-anak itu untuk menunjukkan wibawahnya.
“Kenapa teriak pagi-pagi? Kalian bisa ganggu tetangga yang lain,” peringat Damar.
“Oh iya, bener juga. Nanti kalau kita dimarahin sama Bu Sri lagi kan serem,” celetuk Janu.
“Bu Sri kan memang jahat. Kita lewat depan rumahnya aja dimarahin,” sahut Ari setelah melepaskan tangannya dari telinga.
Rachel ikut mengangguk-angguk, “Habis dari makam Ayah waktu itu aku juga dimarahin Bu Sri.”
Percakapan tiga kecil mengundang rasa penasaran Damar. Dia pun akhirnya menundukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan tinggi badan mereka.
“Dimarahin kenapa?” tanya Damar.
“Rachel! Awas kamu ya kalau nakal! Si tua bangka Ferdi sampe nggak kuat tuh jagain kamu gara-gara nakal!”
Emosi Damar langsung naik ke ubun-ubun mendengar ucapan Rachel. Apalagi Rachel mengatakannya sambil berkacak pinggang dan mata melotot seakan-akan mempraktekkan bagaimana gaya Bu Sri saat mengatakan hal kejam itu padanya.
“Kamu nggak perlu dengerin ucapan dia. Benar kata kamu, dia orang jahat,” tutur Damar.
Rachel mengangguk dan tersenyum lebar. Membuat Damar bersyukur bahwa gadis cilik ini sungguh tak mengambil ucapan Bu Sri ke dalam hatinya.
“Lagian udah biasa kok Bu Sri begitu. Nggak ke aku aja. Ke Kak Janu, Kak Ari, Kak Leo, sama Kak Adam.”
Satu lagi fakta yang terungkap membuat Damar menahan geram. Dia tak habis pikir kenapa ada manusia sekejam itu pada anak-anak. Tetapi saat mengingat kalau dirinya sendiri juga sudah membuat Leo menangis, jadi urung memaki-maki Bu Sri. Sebagai manusia sesama jahat sepertinya tidak etis jika saling mengejek.
“Ayo kita sarapan! Kak Adam udah masak nasi goreng!”
Tiga kecil menarik-narik lengannya hingga dia tak bisa mengelak lagi. Mereka bahkan terus menuntunnya untuk ke rumah mereka melalui pintu belakang. Sepertinya anak-anak memang memiliki kunci pintu ini karena mereka selalu lewat belakang sejak kali pertama bertemu.
“Kak! Kak! Ayah udah datang! Ayo sarapan bareng!” seru Janu dengan penuh semangat.
Adam hanya melirik sekilas pada Damar lalu duduk dalam diam, sedangkan Leo memberikan senyuman kecil. Mata Leo yang bengkak membuat Damar tertegun. Semalam, Leo memang menangis banyak dan dia mengira bahwa tangisan itu tak kunjung berhenti saat dia masuk ke dalam kamar.
“Ayo duduk! Ayo duduk!”
Tiga kecil menjadi yang paling bersemangat menyambut Damar. Ada kursi kosong yang letaknya di ujung. Kursi itu berhadapan dengan Adam yang juga di ujung meja yang lain. Dia langsung paham kalau pemilik kursi ini pasti mendiang ayahnya.
“Selamat makan!”
Para bungsu kembali berseru. Meja makan itu pun dipenuhi dengan suara denting sendok setelah Leo memimpin doa, juga cekikikan pelan dari tiga kecil yang terus menunjukkan tawanya—senang karena bisa sarapan bersama ayah baru.