Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #9

BAB 9. ANGIN PENGANTAR

“Apa dia mati?”

“Nggak kok. Dadanya masih naik-turun. Artinya dia bernapas.”

Damar mendengar suara Janu di telinga kanannya, sedangkan Ari di telinga kiri. Jarak mulut mereka teramat dekat sampai dia bisa merasakan napas mereka yang mengalir masuk ke lubang telinga. Dia sedikit merasa geli dengan deru napas itu hingga bisa mengalihkan rasa sakit yang kian memberat di kepala.

“Coba cek hidungnya.”

Hal berikutnya yang dirasakan adalah sesak karena dua lubang hidungnya dimasuki jari-jari Janu. Lima detik kemudian dia mendengar Ari berseru, “Kamu mencoloknya!”

“Katanya tadi disuruh ngecek?”

Damar tak kuasa untuk tetap diam. Dia berusaha membuka kelopak matanya yang seperti baru dilem—cukup sulit dan lengket. Belum lagi dentuman yang terus berbunyi di kepalanya hingga menimbulkan rasa pening yang luar biasa ketika akhirnya dia bisa melihat wajah Janu dan Ari yang sudah berada di hadapannya. 

“Kenapa ini?” Dia hampir tak mengenali suaranya sendiri karena terlampau kecil dan serak.

“Ayah!” Dua kecil berteriak heboh sambil menjatuhkan tubuhnya di atas Damar. “Ayah sudah bangun!”

Damar terbatuk-batuk. Belum mengantisipasi serangan pelukan dari dua kecil (jika menjatuhkan seluruh tubuh ke atas tubuh orang lain tergolong pelukan). Tubuhnya yang masih lemas, bahkan tak bisa memberontak. Dia hanya memanggil dua kecil agar melepaskannya. Dia juga bingung hilang kemana seluruh energi hidupnya.

“Syukurlah, Ayah nggak mati,” celetuk Janu. Dia sudah bangun duluan, lalu kembali duduk. Diikuti oleh Ari yang kini mengangguk-angguk dengan tampang sedih. 

Damar akhirnya bisa kembali bernapas dengan lebih baik, meskipun dia masih merasa aneh saat mendengar kata mati terucap dengan polos dari mulut dua kecil. Mereka mungkin tidak tahu kalau kata itu bukan kata biasa dan bisa jadi momok menyeramkan bagi para dewasa.

“Hm. Kami hampir menangis karena Ayah nggak bangun-bangun selama dua hari.”

“Tapi Kak Adam bilang Ayah hanya pingsan, bukan mati.”

“Pingsan?”

Kepalanya makin sakit saat memaksa otaknya bekerja untuk mencari-cari ingatan terakhir. Namun, yang muncul hanya wajah Pak Saba dan Adam yang baru menyuguhkan teh hangat. Setelah itu, dia tak ingat apa-apa lagi.

“Kak Adam benar. Ayah nggak mati.” Janu kembali menyebut kata seram. 

Damar mengangguk kecil. “Ya, aku nggak mati.”

Dua kecil membantu memegangi sisi tubuhnya saat dia berusaha bangun. Meskipun mereka tidak banyak membantu karena sentuhannya terasa seperti bulu, dia tetap terharu atas niat baik dua kecil.

“Terima kasih,” ucapnya kemudian.

“Sama-sama!”

Suara derit pintu yang terbuka membuat semua kepala menoleh. Rupanya Leo masuk dengan tas sekolah yang sudah melorot ke siku. Dan nasib tas itu jadi mengenaskan karena terjatuh ke lantai saat Leo sadar kalau Damar sudah siuman.

“Ayah!”

Leo berlari dan menghantam tubuh Damar dengan pelukan hingga dia kembali terbaring. Napasnya kembali sesak karena tubuhnya ditimpa anak lain (kali ini lebih besar).

“Ayah sudah sadar!” serunya dengan heboh persis seperti dua kecil.

“Haha … ya ….”

Leo pasti sangat menyukai pelukan karena dia tak kunjung melepaskan diri sampai akhirnya Damar tak tahan untuk batuk keras-keras. Dia menepuk-nepuk dadanya seperti orang yang baru tenggelam ke dasar lautan saat pelukan itu akhirnya terlepas. 

“Maaf, Yah,” lirih Leo.

Damar menggeleng dengan senyuman kecil. “Nggak apa.”

Dia kembali berusaha bangun untuk kedua kalinya dengan lebih susah payah sambil mengatur pernapasan. Baru beberapa detik duduk, pintu kembali terbuka. Sontak tubuhnya menegang karena sudah dipastikan jika Rachel yang masuk, maka dia akan kembali mendapat pelukan erat. Bukannya dia benci memeluk Rachel, tapi tubuhnya bisa tumbang lagi jika diserang si bungsu.

“Oh, sudah bangun.”

Ternyata hanya Adam yang masuk, dengan wajah datar yang cenderung berekspresi malas saat menatap Damar. 

“Kalian makan siang sana. Sudah siap di meja.” 

Dagu Adam mengarah ke luar kamar sebagai bentuk pengusiran. Janu, Ari, dan Leo mengangguk lesu. Kepatuhan mereka kepada Adam sangat tinggi sehingga dia mulai bertanya-tanya apa dirinya memiliki wibawa yang kuat layaknya Adam. 

“Kamu di sini aja,” celetuk Adam saat Damar baru menurunkan kedua kakinya dari atas kasur.

“Kenapa?” tanya Damar, juga anak-anak yang lain secara bebarengan.

“Dia baru sadar, pasti masih pusing. Kalian ke ruang makan sana. Tapi jangan berisik, ada Rachel yang ketiduran di depan TV.”

Dua kecil menyuarakan ‘yah …’  dengan penuh kecewa. Mereka keluar dari kamar dengan beberapa kali menoleh tak rela kepada Damar. Reaksi itu membuat Damar gemas hingga dia terkikik geli. Meskipun tawanya harus luruh saat bersitatap dengan mata Adam yang menghunuskan bilah pedang.

“Tunggu di sini. Aku ambilin makan.”

“Nggak perlu, Dam—”

Lagi-lagi Adam mengabaikan jawabannya. Dia kembali menutup pintu dengan keras—bahkan terkesan membanting. Kata orang, remaja memang paling menakutkan untuk dihadapi. Kau akan kalah jika berdebat dengannya sehingga merasa martabatmu hilang total sebagai orang dewasa.

Adam kembali sepuluh menit kemudian dengan membawa sepiring nasi yang sudah terdapat lauk ayam goreng dan sayur bayam, lalu tangan kirinya membawa segelas air putih. Damar mengambil alih piring dan gelas itu buru-buru.

Lihat selengkapnya