Damar ikut bergabung ke ruang makan saat makan malam tiba. Setelah mengobrol berat dengan Adam, dia kembali mengistirahatkan badan sejenak. Meskipun akhirnya dia kebablasan dan baru bangun jam lima sore.
Dua kecil langsung menyeretnya saat dia baru membuka mata. Rachel langsung melompat untuk memeluknya ketika dia baru keluar kamar. Untuk anak yang memiliki riwayat asma, dia sangat aktif sehingga Damar sering takut saat Rachel melompat atau berlari ke arahnya.
“Ayo kita makan! Makan!” seru Janu sambil berlari ke ruang makan.
Adam sudah menata piring. Makanan di meja juga sudah siap. Leo membantu mengambilkan nasi ke piring tiga kecil.
“Biar aku sendiri,” ucap Damar sebelum Leo mengambil piringnya.
“Oke, Yah.” Leo menyerahkan centong nasi kepada Damar.
Menu makan malam kali ini capcay udang. Untuk sekali lagi, Damar terpukau karena menu makan yang berbeda dengan tadi siang. Dia jadi merasa bersalah karena tidak membantu sama sekali.
“Ini masakan Adam juga?” tanyanya.
Adam mengangguk, lalu menggeleng. “Ya, tapi juga dibantu Leo.”
Leo mengembangkan senyuman yang sangat lebar saat Damar menatapnya dengan takjub.
“Keren banget kalian.”
Telinga Leo memerah atas pujian itu. Berbeda dengan Adam yang hanya membalas dengan mata merotasi malas.
“Oke, ayo kita makan,” ucap Damar setelah mengambil nasi dan capcay ke piringnya. Dia sudah menyendok satu suapan sampai Rachel berseru kencang.
“Baca doa dulu!”
Mulut Damar yang menganga lebar karena siap menerima makanan sontak tertutup rapat. Sendok di tangannya dibanting kembali ke piring hingga beberapa nasi muncrat sampai ke meja.
“Maaf,” ucapnya sambil mengambil butiran nasi yang berantakan di meja makan dan dibawa kembali ke piring.
Adam memberi tatapan judgmental yang paling kejam hingga membuatnya makin kelabakan dan hampir menjatuhkan piring ke lantai.
“Kita berdoa sekarang,” celetuk Adam.
“Kak Ari, sekarang giliran kamu yang pimpin doa!” Rachel menunjuk Ari yang langsung memberengut, tapi tetap mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar.”
“Aamiin....”
Ini bukan pertama kali Damar ikut makan bersama tapi tetap saja terasa canggung dengan acara berdoa bersama sebelum makan. Ayahnya telah mendidik anak-anak ini menjadi anak yang sangat baik, sedangkan dia telah tenggelam jauh dan bahkan lupa dengan doa-doa sederhana.
“Kau sekarang seorang Ayah, jadilah panutan.”
Suara yang terngiang di kepala seolah menjadi sebuah lecutan yang menyadarkan kalau status ayah ini bukanlah main-main. Dia tak yakin bisa menjadi ayah yang sempurna, tapi dia akan mengusahakan diri sebaik mungkin karena tak akan mengkhianati keputusannya.
Makan malam berakhir tiga puluh menit kemudian. Anak-anak masih berkumpul di ruang tengah untuk mengerjakan PR bersama, sedangkan Rachel menonton TV dengan mata yang mulai terpejam dan terbuka tiap sepuluh detik.
Damar menyelesaikan acara cuci piring dengan cepat karena masih ada hal yang harus dilakukan, tapi dia tak tahan untuk tertawa saat melihat betapa menggemaskan anak-anak di matanya sekarang. Kepala Rachel terus terantuk-antuk namun tak ingin melewatkan kartun di depannya, Janu dan Ari sesekali mencuri pandang ke arah televisi karena bosan belajar, sedangkan Leo terus memperingatkan mereka untuk tetap fokus pada buku.
“Kalau PR-nya sudah selesai langsung tidur, ya,” pesan Damar.
“Aku boleh tidur di rumah Ayah?” Leo bertanya cepat.
Tiga kecil sontak menolehkan kepala dengan mata yang berbinar.
“Aku juga! Aku juga!”
“Aku juga, Yah!”
Mereka bertiga mengacungkan jari dan sudah mengelilingi Damar yang berdiri seperti badut.
“Kalian biasa tidur di sana?” tanyanya.
Tiga kecil mengangguk kompak. “Iya!”
Damar menoleh pada Adam yang baru keluar dari kamar mandi. Mencoba berinteraksi lewat tatapan mata tentang apa yang harus dilakukan, tapi dia hanya mengedikkan bahu dan masuk ke dalam kamar.
“Ayo ke rumah Ayah!” Janu berteriak memberi komando, padahal Damar belum memberikan jawaban.
“Selesaikan PR dulu!” Leo menarik kaos Janu agar berhenti bergerak. Janu kembali duduk dengan menggerutu kesal. Ari ikut duduk di sebelah Janu dan kembali sibuk dengan tugas mereka.
Damar ikut duduk di ruang tengah sambil memangku Rachel. Televisi sedang menayangkan serial kartun dari Malaysia yang legendaris dengan kisah si kembar botak. Sewaktu dia kecil, dia juga sering menonton kartun ini saat “waktu menonton” di panti asuhan yang berkisar pada pukul empat sampai lima sore. Di usia dewasa ini, dia cukup takjub karena kartun dari negara tetangga ini masih bertahan.
“Kalian suka kartun ini, ya?” tanyanya berbasa-basi. Mereka mengangguk, bahkan Leo yang sudah lebih besar.
“Kami suka! Karena aku dan Ari sama seperti mereka yang kembar!” seru Janu, pensil di tangannya kembali lepas karena dia sudah mengangkat telunjuk tinggi-tinggi.
“Tapi Kak Janu nggak botak!” Rachel menyahut.
Leo mengangguk-angguk. “Dan kalian berdua nggak kembar identik.”
“Tapi kita tetap kembar!” Janu dan Ari berseru lantang.
Terdengar suara pintu terbuka, disusul dengan gerutuan dari Adam. “Jangan berisik! Kerjakan PR-nya! Kalau sudah, matikan televisi dan tidur!”