Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #11

BAB 11. ARTI SEBUAH PANGGILAN

Seluruh tulang punggung Damar terasa panas dan kaku. Dia baru menyelesaikan pekerjaannya tepat pukul tiga pagi. Pantas jika otot-otot di tubuhnya terasa nyeri karena kebanyakan duduk. Ini semua karena dia harus mencari banyak project sebagai pekerja lepas agar mendapat pemasukan besar, meski artinya dia perlu merelakan jam tidurnya. Lagipula, dia juga sudah terbiasa lembur saat masih menjadi budak berdasi. 

Yang berbeda hanya tatanan jam kerja. Jika sebelumnya dia berangkat ke kantor pagi-pagi, kini dia harus memasak untuk anak-anak. Lalu membantu mereka menyiapkan buku-buku pelajaran, mencari kaos kaki, dan membuat bekal. Dia cukup kelabakan sebagai ayah baru, padahal ada Adam yang ikut membantu. Bahkan, sepertinya tetap Adam yang mengerjakan porsi paling banyak.

Saat anak-anak di sekolah, dia akan membersihkan rumah dan membantu Adam mencuci baju. Setelah beres, dia akan pamit untuk bekerja sebentar karena pukul sepuluh Rachel sudah pulang dari TK. Anak itu bahagia bukan main saat dijemput dengan mobilnya. Begitu pula dengan si kembar dan Leo. 

Waktu siang menjadi family time. Dia bermain bersama anak-anak sampai matahari tenggelam—basket bersama Leo yang kemudian bolanya diambil Janu dan jadi main lempar tangkap, sepak bola, bahkan main masak-memasak dengan Rachel. Setelah makan malam, biasanya mereka akan belajar dan dia juga membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan. Namun, hari ini dia baru bisa membuka laptop saat pukul sepuluh malam. 

Anak-anak dibebaskan dari jam belajar karena besok hari minggu. Jadi dia menghabiskan malam dengan menonton film bersama. Dia menyulap ruang keluarga menjadi bioskop mini dengan mengangkat kasur ke ruang tengah, menumpuk-numpuk bantal, menyiapkan selimut beserta camilan kentang goreng. Sayang sekali dia tidak memiliki layar proyektor dan hanya menonton melalui televisi. 

Matanya mulai perih karena terus mendapat pantulan cahaya laptop. Dia melepaskan kacamata, lalu merenggangkan otot-otot dengan miring ke kanan dan kiri sampai tulang-belulangnya berbunyi. 

Damar sadar kalau harus segera tidur sebelum subuh datang, tapi tangannya mengkhianati dengan membuka laman sosial media hingga dia berakhir tak kunjung terlelap. Mata Damar terpaku pada satu postingan dari Olivia yang sedang belanja bersama kawannya.

“I am glad you’re happy even without me,” batin Damar.

Biasanya, Damar yang selalu menemani Olivia belanja bulanan. Dia juga sabar menanti Olivia yang mampir untuk ke salon dan berbagai perawatan kulit lainnya. Kini, siapa sangka jika semuanya telah berubah? Dia tak lagi bersama Olivia, tapi Tuhan menggantinya dengan lima anak-anak yang lucu walau sering kali membuat sakit kepala.

“Pikiranku beneran udah mirip sama bapak-bapak,” gumamnya saat wajah anak-anak memenuhi benaknya.

Damar akhirnya mematikan ponsel sebelum seluruh kenangan tentang Olivia kembali datang dan membuat hatinya gundah. Biar bagaimanapun, mereka baru saja berpisah setelah menjalani hubungan yang lama. Hatinya masih tak bisa melupakan Olivia begitu saja.

Kepalanya direbahkan di meja setelah menyingkirkan laptop sampai ke sudut. Kasurnya sedang digunakan anak-anak di ruang tengah, jadi dia akan tidur dengan posisi duduk saja. Toh, dia hanya perlu terlelap sebentar sampai subuh.  

Ketika matanya baru tertutup dan bersiap masuk ke alam mimpi, dia dikejutkan dengan suara berisik dari pintu belakang. Dia yakin kalau ada benda berat yang baru saja terjatuh. Belum lagi suara langkah kaki yang samar-samar terdengar.

“Apa itu? Apa ada maling?”

Sontak Damar beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar secepat mungkin. Ruang tengah yang gelap masih dipenuhi dengan dengkuran Janu dan Leo. Dia tidak bisa melihat jelas posisi tidur mereka karena buru-buru berjalan ke pintu belakang. Dia sudah membawa sapu yang siap digunakan sebagai senjata jika bertemu maling, tapi dia terpaku saat melihat pemandangan di depannya.

“Adam? Mau ngapain?” tanya Damar dengan keheranan saat melihat Adam dengan sepeda di sisinya.

“Mau ke pasar,” jawab Adam.

“Ke pasar? Jam tiga dini hari?!” suara Damar melengking karena tak percaya dengan apa yang didengar.

“Iya, kalau habis subuh keburu adik-adik bangun dan mereka bakalan pengen ikut. Ribet.”

“Oh ....”

Damar mengangguk-angguk mengerti. Dia jadi membayangkan betapa berisiknya tiga kecil yang merengek pada Adam agar diizinkan ikut ke pasar, lalu mereka akan menguasai sepeda yang dituntun Adam. 

“Minggir, aku nggak bisa lewat.”

Damar melangkah ke samping saat sepeda biru Adam hampir menabraknya. Anak itu sudah menaiki sepeda, tapi dia mencegah dengan menahan boncengan belakang. 

“Tunggu sebentar. Aku ikut!” 

Dia segera masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah seribu. Adam ingin membalas agar Damar tak mengikutinya, tapi lelaki itu sudah kembali datang dengan jaket hitam yang melindungi tubuh.

“Sini, biar aku yang bonceng.”

“Nggak perlu—”

Adam belum selesai berbicara saat Damar sudah mengambil alih sepeda di tangannya dan menaikinya begitu saja. Adam yang berada di samping memandangnya dengan kesal. 

“Ayo!”

Damar terkekeh meski merasakan tatapan Adam yang melubangi kepalanya. Dia menarik lengan Adam agar duduk di belakangnya. Dengan helaan napas panjang, Adam akhirnya menurut.

“Anak ini, seperti lagi dipaksa melewati jurang saja,” pikir Damar. Dia harus bekerja lebih keras untuk membuka hati Adam agar bisa dianggap ayah.

“Oke, kita berangkat!”

Dia tertawa kecil saat merasakan kepala Adam yang terantuk-antuk di belakang punggungnya. Rupanya anak itu masih mengantuk.

Tangan kirinya sontak menangkap kedua tangan Adam dan melingkarkannya di pinggang. Anak ini pasti kelelahan sampai ketiduran di atas sepeda, tapi ini wajar karena subuh memang belum datang.

Dan dia selalu melakukan rutinitas ini bertahun-tahun?” 

Damar terpukau dibuatnya. Adam terlalu dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya.

Kalau dipikir-pikir, dia tak tahu banyak tentang Adam. Mereka jarang mengobrol dengan ringan karena Adam lebih sering bersikap tegas dan agak kasar. Namun, dia tak ambil hati atas sikap Adam. 

Pakopen, tempat tinggalnya, adalah sebuah desa yang masuk kawasan Semarang Atas. Disebut atas karena berada di lereng gunung Ungaran, bukan dataran rendah seperti Semarang Kota. Artinya, mengendarai sepeda dari rumah ke Pasar Jimbaran merupakan hal yang cukup sulit karena jalanan yang menanjak dan menikung. Setelah lama tidak berolahraga, otot-ototnya cukup tegang karena harus mengayuh sepeda di area pegunungan. 

Kayuhan itu berhenti setelah dua puluh menit lamanya. Dia bernapas seperti ikan yang baru ditangkap nelayan. Sudah bertahun-tahun dia tak pulang ke desa ini hingga ingatannya tentang tempat ini sudah memudar. Dia tidak tahu dimana letak pasar itu. Dia kira dengan mengikuti insting akan sampai, tapi sepertinya dia tersesat karena kini mereka berada di jalanan yang sempit dengan jurang di sisi kiri dan hutan di sisi kanan. 

Haruskah dia membangunkan Adam di belakangnya? Tapi mendengar deru napasnya yang teratur membuatnya tak tega.

Damar memilih untuk mengikuti kata hati dengan melanjutkan kayuhan sepedanya tanpa bertanya pada Adam. Dia tetap membiarkan Adam terlelap dan memilih jalan yang berbelok ke kanan dengan harapan bahwa pilihannya benar.

Semakin lama mengayuh, jalanan yang semula beraspal menjadi banyak bebatuan. Perasaan Damar semakin tak enak, tapi dia tetap melanjutkan perjalanannya dengan pikiran jalanan desa memang tidak semuanya bagus.

“Aduh!”

Lihat selengkapnya