“Hai.”
Adam agak terlonjak saat membuka pintu belakang rumah. Penyebabnya bukan karena tikus got sebesar Satyo (kucing liar di gang yang sering diusilin Janu), tapi Damar.
Laki-laki yang ternyata masih bertahan di rumah ini selama seminggu penuh, sudah duduk dengan dada membusung di atas sepeda. Dia menyapa dengan senyum lima jari seolah sedang membanggakan diri.
Adam mengendurkan bahunya dari keterkejutan.
“Ayo ke pasar sekarang!”
Seruan Damar terkesan berlebihan di jam tiga dini hari. Adam yakin kalau ayam-ayam yang masih tidur nyenyak di kandang bisa demo karena teriakannya.
“Nggak dingin?” tanya Adam, berbasa-basi setelah menyadari penampilan Damar yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos katun biasa di suhu delapan belas derajat celsius.
Damar tertawa, “Enggak.”
“Ya udah.”
Di detik berikutnya, Adam merelakan dirinya untuk duduk di belakang, meski sambil mewanti-wanti agar dia tak salah jalan seperti minggu lalu. Dia tak bisa berkomentar banyak karena sudah berjanji akan membiarkan Damar ikut ke pasar lagi jika dia tetap tinggal.
Di sepanjang jalan yang naik-turun, mulut Damar tak pernah berhenti bicara. Di separuh jalan, Adam sudah mengerti riwayat hidup Damar dari kecil sampai sarjana. Meski delapan puluh persen ceritanya tidak penting (apa yang penting dari memberitahu kalau dia pernah disengat tawon, dimarahi dosen karena ketiduran di kelas, lalu masak opor tapi lupa kasih garam?), tapi dia tetap mendengarkan.
Biasanya, perjalanan menuju pasar sangat hening. Hanya satu-dua orang yang dijumpai sehingga dia sengaja mengayuh sepedanya dengan lebih cepat. Jadi, rasanya aneh saat perjalanan kali ini seperti ditemani penyiar radio. Namun, dia tak ingin protes, karena rupanya kebisingan yang Damar ciptakan cukup menyenangkan.
“Oh ya, kali ini jangan belanja terlalu cepat. Aku juga mau belajar akrab sama orang pasar, jadi biar aku yang belanja.” Damar memperingatkan selepas memarkirkan sepeda.
“Nanti lama.”
“Bakal ngulur waktu sih, tapi kan sekarang juga masih gelap. Kita masih punya banyak waktu.”
Adam menyilangkan kedua tangannya dan menatap Damar dengan mata tajam seperti biasanya. Damar sudah hafal di luar kepala bahwa itu pertanda Adam tak setuju dengannya walau dia tak mengatakan apa pun.
“Kalau gitu belanjanya dibagi dua aja. Kamu bagian belanja sayuran, biar aku yang belanja ikan.” Damar mengubah rencana, tapi Adam masih tak menghilangkan silau sengitnya. Kedua bahu Damar menurun karena Adam tak akan mendengarkannya.
“Jangan memilih ikan yang matanya keruh dan kemerahan.”
Wajah Damar yang semula kecewa kembali tertarik hidup ketika mendengar ucapan Adam.
“Pilih yang matanya masih segar. Itu cara paling mudah buat tahu ikannya segar atau enggak. Kalau masih susah, tekan aja dagingnya. Kalau terlalu lembek berarti nggak segar.” Adam berkata dengan meraih keranjang belanja dari tangan Damar.
“Aku yang bawa keranjang ini karena belanja sayuran banyak. Nanti kamu pakai kresek aja belanja ikannya ... Yah.”
Adam berbalik dan berjalan dengan langkah seribu setelah menyelesaikan ucapannya. Meninggalkan Damar yang masih mengedipkan matanya tak percaya dengan panggilan yang baru saja didengar. Suara Adam memang sangat rendah, tapi dia yakin bahwa anak itu memanggilnya dengan sebutan ayah.
Damar mulai terbiasa dipanggil ayah oleh Leo dan tiga kecil, tapi mendengarnya dari Adam terasa berbeda. Dia kira anak itu tak akan pernah mengakuinya.
“Ayah … hehehe ….”
Tukang parkir yang berdiri di dekat sepeda mengerutkan kening akan tawa Damar yang tiba-tiba. Namun, Damar tak peduli dengan pandangan orang lain yang mengira dirinya ketempelan. Dia masuk ke dalam area pasar dengan tawa yang makin nyaring.
“Ya ampun, anak itu lucu banget. Akhirnya dipanggil Ayah,” gumam Damar, masih dipenuhi kembang.
Damar berjalan menuju deretan penjual ikan segar sembari berusaha mengingat-ingat penjual mana yang menjadi langganan Adam. Minggu lalu Adam berbelanja dengan sangat cepat hingga dia tak sempat menghafal penjual mana saja yang didatangi.
“Kamu bukannya yang sama Adam minggu lalu, ya?”
Langkah Damar terhenti kala pertanyaan dari seorang perempuan paruh baya tertuju padanya. Nenek itu menunjuk-nunjuk Damar dengan menyipitkan matanya yang rabun.