Adam sudah mengatakan dengan jelas kepada Damar bahwa dia sungguh tak ingin kembali ke sekolah, tapi hal itu tak membuat Damar gentar untuk terus merayunya. Damar akan menanyai Adam tentang sekolah di tiap kesempatan, bahkan ketika Adam menyiram tanaman di belakang rumah seperti sekarang.
“Aku bisa belikan seragam baru, sepatu baru, tas baru. Kamu juga bisa ketemu temen-temen sebaya yang lain. Main sama mereka sampai sore juga nggak apa-apa.”
“Nggak mau.”
“Kamu suka sepak bola, kan? Leo bilang kamu lihat pertandingan futsal di kampung sebelah. Kamu bisa ikut klub sepak bola dan tanding.”
“Nggak mau.”
Adam meninggalkan kebun setelah selesai menyiram dan mengabaikan Damar yang masih berceloteh di belakangnya. Sebisa mungkin dia menutup telinganya dan masa bodoh dengan segala iming-iming Damar.
“Adam! Adam!”
Damar bahkan mengikutinya sampai kamar. Sampai-sampai dia harus berlari mengunci pintu sebelum Damar melesat masuk.
“Adam, aku serius! Kamu bisa sekolah lagi!”
“Aku mau tidur! Jangan berisik!”
“Oke. Oke. Maaf. Tapi kamu pikirin baik-baik, ya!”
Ketukan pintu akhirnya terhenti. Bersamaan dengan suara Damar dan jejak langkah kaki yang menjauh.
Kedua bahunya mengendur setelah yakin Damar benar-benar pergi. Dia mengambil duduk di depan meja belajar dan disuguhi dengan buku paket matematika yang masih terbuka. Ada banyak coretan yang memenuhi halaman. Hasil dari otaknya yang menerka-nerka jawaban.
Sekolah?
Tentu saja Adam menginginkannya. Dia bahkan masih bermimpi mengenakan seragam di tiap lelapnya. Bermain bersama teman-teman sampai mengerjakan persoalan sulit yang tak bisa dijawab.
Adam sungguh… sangat… amat… menginginkannya.
“Kak Adam! Kakak!”
Namun, impian itu terus berguguran ketika suara tangis adik-adiknya tiga tahun yang lalu masih terdengar sampai detik ini. Rachel yang saat itu baru bisa berbicara hanya menangis sambil berseru, “Cakit! Cakit!”
Adam masih benci dengan kenyataan bahwa kata “sakit” menjadi kata yang paling fasih keluar dari mulut kecil Rachel. Meski demikian, ayahnya tetap tak berhenti memberikan tendangan di tubuh Rachel yang ringkih, juga adik-adiknya yang lain.
Saat itu dia telat pulang sekolah karena kerja kelompok, tapi adik-adiknya berdarah-darah di tangan ayahnya. Tidak ada tetangga yang menolong mereka. Ferdi yang biasa bersama adik-adik juga sedang di rumah sakit. Oleh karena itu, dia tahu kalau tidak bisa mengandalkan orang lain untuk melindungi adik-adiknya.
Tidak mungkin dia kembali ke sekolah dan meninggalkan mereka lagi. Bagaimana jika ayahnya datang? Dia memang sudah hengkang dari rumah setelah diberikan uang yang sangat banyak oleh Ferdi, tapi… bagaimana jika dia kembali pulang setelah uangnya habis?
Bagaimana jika dia menculik adik-adiknya dan menjualnya? Sama seperti yang dia lakukan kepadanya di masa lalu. Membayangkannya saja sudah membuatnya seluruh saraf di tubuhnya nyeri karena ketakutan.
Adam tak mau menjadi serakah dengan mengharapkan sekolah. Memang benar Damar sudah di sini, tapi bagaimana jika akhirnya pergi lagi?
Tidak ada yang bisa menjamin masa depan, jadi dia bertekad menjadikan mimpinya sebagai harga dari jaminan keselamatan adik-adiknya.
***
Mulut Damar tak berhenti mengunyah tahu bulat yang dibelikan Leo sepulang sekolah. Sebenarnya dia sudah makan siang, tapi cacing-cacing di perutnya masih ingin jatah. Mungkin mereka protes karena larutan makanan di lambung cepat terserap oleh otak yang tak henti-hentinya bekerja untuk berpikir keras.
Dia sedang membuat banyak perencanaan tentang sekolah Adam—sekolah yang bagus di daerah Pakopen, juga cara agar Adam sungguhan mau sekolah. Setelah ini dia juga mau melihat banyak podcast parenting tentang cara berkomunikasi dengan anak yang sudah menjadi remaja.
“JANU!”
Lamunannya baru hilang saat teriakan Ari yang sedang duduk di depannya melengking tinggi. Sedangkan si oknum nama tetap memberikan cengiran setelah berhasil mematuk tahu bulat milik Ari.
“Janu, nggak boleh ambil jajan Ari gitu aja. Kamu kan udah punya sendiri,” peringatnya.
Janu menggeleng tak mau disalahkan, meski mulutnya masih penuh dengan tahu bulat. “Aku cuma minta sedikiiiiit loh, Yah.”
“Nggak! Gigitanmu kayak monster!”
Belum sempat Damar menasihati Janu, Ari sudah berdiri dan kembali menyeru marah. Janu ikut-ikutan berdiri dan mereka saling lempar kekesalan seperti di ring tinju.
“Emang kamu pernah lihat monster kok ngatain aku monster?!”