Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #14

BAB 14. DOA SEDERHANA

Dulu Damar sering membayangkan bagaimana rasanya saat sudah menjadi ayah setelah menikah dengan Olivia. Rumah yang penuh tawa dengan mainan yang berserakan di tiap penjuru ruangan. Berkelakar bersama-sama sampai lelah, juga serunya memandikan anaknya sambil bermain air. 

“Ledakan datang!”

Kedua tangan Janu dihantam ke dalam bak air hingga permukaan yang tenang berubah jadi tsunami. Ari yang berdiri di sebelahnya gelagapan karena wajahnya menjadi korban cipratan air, sedangkan Damar hanya tertawa dengan keusilan Janu. 

Hatinya penuh melihat Janu dan Ari yang terus bermain bersama di kamar mandi. Dia tak menyangka kalau saat ini sedang hidup di dalam impiannya, meskipun tanpa adanya Olivia.  

“Basah semua kan bajunya. Harusnya dilepas dulu, baru main air,” tukas Damar. 

Si kembar terkekeh, lalu berjalan ke sudut kamar mandi untuk melepas seluruh pakaiannya yang basah total, lalu dimasukkan ke dalam bak kotor. 

“Ayah! Lihat ini, Yah!” 

Damar yang sebelumnya sibuk mengocok botol sampo yang hampir habis, menoleh kepada Ari yang sedang menunjukkan busa sabun yang bulat hingga menutupi kedua tangannya. Dia hampir tertawa, sebelum menyadari ada yang aneh dengan tubuh Ari.  

“Ini … kenapa?” 

Di kedua bahu sampai lengan atas Ari terdapat lingkaran-lingkaran kecil kecoklatan, seperti titik-titik gosong yang ditanam permanen di kulitnya. Jika dilihat lebih dekat, di area perut dan punggung pun ada bekas luka garis panjang yang  lebih gelap dari kulitnya. 

“Oh! Bekas kena rokoknya Ayah yang dulu,” jelas Ari sambil menyentuh lengan, “kalau ini karena sabuk,” tambahnya dengan menyentuh perut.

“Ayah Ferdi?” suara Damar hampir teredam dengan geletukan giginya yang mengeram emosi. Membayangkan siapa manusia kejam yang berani melukai anak kecil dengan sebegini bengisnya. Dan kepalanya hampir meledak jika orang itu benar-benar mendiang ayahnya. 

“Bukan!” Ari menggeleng cepat. “Ayah Ferdi mah baik kayak Ayah yang sekarang!”

“Terus, siapa—”

Sebelum Damar melempar pertanyaan lanjutan, Janu ikut menimpali dengan menyibak rambutnya. “Aku juga punya bekasnya loh, Yah!” 

Di sepanjang dahi Janu terlihat garis pucat yang menonjol seperti pembatas antara wajah dan rambut. Mata Damar makin ingin melompat dari tempatnya kala mengamati luka itu.

“Ini bekas jahitan, kan?” cecar Damar. 

“Iya karena dibenturin ke tembok,” jawab Janu dengan enteng. 

Hidung Damar sudah  kembang-kempis menahan amarah. Kamar mandi yang dikelilingi biru laut agar siapapun yang di dalamnya merasa rileks sudah tak berlaku baginya. Malah sekelilingnya terasa panas seolah dia sedang terjebak di kubangan neraka. 

Janu menyadari wajah Damar yang berubah jadi tomat matang, dia pun buru-buru berkata, “Tapi udah nggak sakit kok, Yah.”

Ari mengangguk-angguk. “Dulu Ayah kita yang beneran emang suka mukul, tapi sekarang kita aman.”

“Hm! Aku kira semua ayah jahat, ternyata enggak.” Janu mengulas senyuman yang teramat lebar hingga berhasil memadamkan api yang menjebak Damar.

“Gara-gara Ayah Ferdi, aku jadi suka punya ayah lagi,” lanjut Ari. 

Lihat selengkapnya