Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #15

BAB 15. KEMBANG API HINGGAP DI HATI

Alun-alun Bandungan padat dengan manusia meski perayaan tahun baru masih enam jam lagi. Damar menggendong Rachel saat ikut menjadi satu di kerumunan orang-orang, sedangkan Leo menggandeng Ari dan Adam mencengkram kuat tangan Janu. 

“Aku mau beli batagor!” Janu berteriak dan hampir berlari, tapi Adam buru-buru mengeratkan tangan.

“Jangan sampai lepas!” peringat Adam.

“Aku mau soto!” Ari ikut menunjuk ke salah satu kios yang berjejeran di sepanjang jalan alun-alun. 

“Oke. Oke. Kita pilih tempat makan dulu. Jangan berpencar,” tukas Damar. “Yang lain mau makan apa?” tanyanya kemudian.

“Apa aja,” Adam menjawab dengan cuek. 

“Sate kelinci!” Leo mengangkat tangannya tinggi-tinggi seolah senang bisa menjawab pertanyaan sulit dari guru matematika. 

Untuk beberapa detik, ada hening yang menyeruak di tengah riuhnya orang-orang yang berlalu-lalang. Sampai akhirnya Ari menyeletuk, “Kak Leo jahat!”

“Iya! Kelinci nggak boleh dimakan!” Janu ikut memarahi Leo.

“Kelinci kan lucu! Kak Leo jangan makan kelinci!” Rachel yang berada dalam gendongan Damar juga menatap Leo dengan tak percaya seolah baru saja dikhianati. 

Air muka Leo sudah tertekuk karena diserang oleh tiga kecil. “Ya udah nggak jadi,” sungutnya. 

“Kak Leo makan sate ayam aja!” usul Janu, diangguki oleh Ari dan Rachel.

Leo terlihat masih enggan, tapi akhirnya mengangguk juga. Damar hanya tertawa melihat interaksi mereka. Dia memang lebih banyak tertawa sejak hidup bersama anak-anak. 

“Rachel mau sate ayam,” ujar Rachel kemudian. 

“Aku juga mau deh! Tapi tetep beli batagor juga.” Janu menimpali. 

“Nanti perutmu meledak.” Adam berkomentar.

“Perutku kuat!” protes Janu. 

“Iya. Iya. Nggak apa-apa kok, Dam. Kita bisa makan bareng-bareng batagornya.” Damar menengahi. “Ari gimana? Tetap mau soto?” tanyanya sambil menatap Ari yang kini juga menatap pedagang sate yang sedang mengibas-ngibaskan kipas anyaman ke jejeran sate yang dibakar di atas arang. 

“Sate ayam juga deh,” balas Ari. 

“Adam?” Kepalanya kembali menoleh ke si sulung. 

Adam hanya mengedikkan bahu. “Samain aja.”

“Oke. Kita ke situ!” 

Damar kembali melanjutkan langkah menuju kios sate yang menjual berbagai jenis; ayam, kelinci, kambing, dan sapi. Janu sempat menyeletuk kalau pasokan pangannya sudah seperti di kandang dan Adam segera membekap mulutnya dengan wajah merah.

Tempat duduk di dalam kios sudah penuh, jadi Damar dan anak-anak mengambil duduk di atas tikar yang disiapkan di depan kios. Ada dua tikar yang dibentangkan, tetapi mereka tetap duduk berhimpitan dengan pembeli yang lain. Damar pun memilih menyingkir dan duduk beralas aspal agar anak-anak bisa lebih leluasa. 

“Kok Ayah duduk di sana?” tanya Janu. 

Damar tersenyum. “Nggak apa. Nggak terlalu kotor kok.”

“Pesan apa saja, Pak?” Seorang perempuan berusia 50-an mendatangi Damar dengan buku nota kecil, siap mencatat pesanan.  

“Sate ayam!” Tiga kecil berseru kompak sebelum Damar menjawab. 

“Sate ayam enam porsi, Bu,” jawab Damar dengan bibir yang terus melekung. 

“Pakai nasi atau lontong?” tanya si penjual lagi. 

Tiga kecil kembali menjawab dengan bersahut-sahutan. 

“Rachel mau nasi!”

“Ayah!!! Aku mau lontong! Lontong dua porsi!”

“Janu, nanti perutmu beneran meledak!” Adam mengomel.

“Aku mau nasi, Yah,” kata Ari menghentikan omelan Adam.

Damar memandang Adam dan Leo, mereka menjawab bersamaan, “Lontong.”

“Dua porsi sate ayam pakai nasi, empat yang lain pakai lontong, lalu satunya tambahin lontongnya, Bu,” ucap Damar meringkas pesanan anak-anak. 

Lihat selengkapnya