Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #16

BAB 16. KAMU BUKAN ANAK SIAL

Kali ini Damar tidak bisa menahan air matanya lagi. Janu demam dan terus muntah-muntah sejak pulang dari alun-alun. Awalnya, semua baik-baik saja. Anak-anak sudah kembali tidur nyenyak. Namun saat jarum menunjuk angka dua, Adam mengetuk-ngetuk pintu kamarnya dengan kuat seakan-akan ingin merobohkannya.

“Janu … Janu ….” Adam baru menyebut nama dengan napas yang terengah-engah, tapi cukup membuat jantung Damar merosot sampai kaki. 

Janu sudah terduduk lesu di depan kamar mandi dengan kaos yang basah bekas muntahan. Di sebelahnya ada Ari yang terus menggenggam tangan Janu yang terkulai lemas. 

“Sudah aku bilang jangan jajan banyak-banyak! Perutmu nggak kuat!” Adam masih mengomel meski tangannya sibuk mengolesi minyak kayu putih ke perut, dada, dan leher Janu. 

“Sudah, Dam. Jangan malah dimarahin. Kasihan,” balas Damar dengan membantu mengenakan baju ganti ke tubuh kurus Janu. “Kita ke rumah sakit sekarang,” sambungnya dengan menggendong Janu. 

“Aku ikut—” Adam ikut berlari ke luar rumah, tapi Damar mencegahnya di ambang pintu. 

“Kamu di rumah aja. Jagain adik-adik. Leo sama Rachel nggak kebangun, nanti dia kaget kalau tiba-tiba kamu dan Janu nggak ada.”

Adam mengangguk meski enggan. Di hadapannya ada Ari yang menempel dengan wajah yang tak kalah pucat. Ketakutan di matanya memantul kala melihat kondisi kembarannya yang lunglai di dekapan Damar. 

“Ayah, hati-hati. Jagain Janu ya, Yah,” pesan Ari. 

Damar mengelus puncak kepalanya. “Pasti.”

“Kalau mau muntah nggak apa muntahin aja,” ujar Damar setelah mendudukkan Janu ke kursi penumpang di sebelahnya dan menata sabuk pengamannya. 

“Nanti mobil Ayah kotor,” jawab Janu dengan suara yang amat lirih, sangat berbeda dengan kesehariannya yang selalu lantang. 

“Bisa dicuci kok. Nggak apa-apa.”

Bagi Damar, Janu adalah matahari yang tinggal di rumah. Dia anak yang paling berisik, paling usil, dan juga paling ceria. Saat melihat sang matahari dilanda awan mendung rasanya membuat siapa pun gusar dan turut bersedih atas badai yang menimpanya. 

Setelah melihat navigasi di ponsel, ternyata rumah sakit terlalu jauh jaraknya. Hanya ada klinik 24 jam sebagai pilihan terbaik mengingat kondisi Janu yang sudah sangat lemas. Jarak menuju klinik itu berkisar dua belas menit. Damar baru bernapas lega karena jarak tempuh yang dekat, tetapi emosinya kembali berdentum kala mesin mobilnya tak kunjung bisa dihidupkan.

“Kenapa harus rewel sekarang sih?” gerutu Damar dengan terus mencoba menyalakan mesin berulang kali. Padahal, saat digunakan ke alun-alun mesinnya baik-baik saja. 

“Nggak bisa, Yah?” tanya Janu dengan lemas. 

“Tunggu sebentar. Ayah coba lagi.” 

Hanya ada suara gerungan mesin yang patah-patah. Damar menoleh ke arah Janu yang kembali muntah. Wajahnya memerah karena rasa bersalah saat menyadari kalau kursi, karpet mobil, hingga dashboard sudah dipenuhi dengan muntahannya. 

“Kita pesan taksi aja,” usul Damar dengan buru-buru membuka aplikasi transportasi online. 

Dia ingin menjambak rambutnya saat menghadapi masalah lain;  tidak ada pengemudi yang menerima. Apa orang-orang sudah tidur karena kelelahan menanti kembang api? Dia terus bersungut-sungut dalam hati sembari mencoba mencari driver berkali-kali.

“Kenapa, Yah?” Dari balik jendela, Adam mengetuk-ngetuk kaca. Damar pun keluar dari mobil sembari mengusap kasar wajahnya. 

“Mobilnya mogok. Pesan taksi juga nggak ada yang ambil.”

Dia berusaha memutar otak. Jika ke klinik dengan mengayuh sepeda, perlu waktu yang lebih lama dan tidak aman untuk Janu. Di sini pun tidak ada motor. 

Ketika matanya terus berlarian ke tiap sudut saat berpikir keras. Dia menangkap mobil yang terparkir di depan halaman rumah tetangganya. Tanpa pikir panjang, dia segera menggendong Janu dan berlari ke rumah tetangga yang berjarak lima meter. 

Lihat selengkapnya