Damar bangun kesiangan, tetapi tetap lebih awal daripada yang lain. Janu yang tidur dengannya masih terlelap dengan mulut menganga. Suhu tubuhnya sudah turun, tetapi wajahnya tetap terlihat sayu dan bengkak akibat menangis berjam-jam.
Tidak ada Ari dan Rachel yang menyambut saat dia keluar kamar, jadi sudah dipastikan mereka masih tidur juga. Dia pun meraih kunci cadangan di meja televisi, lalu masuk ke rumah sebelah melalui pintu belakang. Lampu-lampu di ruangan masih menyala sehingga dia mematikan satu per satu, lalu membuka jendela dengan perlahan-lahan. Tidak ingin membangunkan siapapun, terutama Adam yang kurang tidur karena ikut mengurus Janu.
Rumah sangat sunyi tanpa adanya pekikan anak-anak. Rasanya aneh dan tidak familiar. Dia terkekeh sendiri saat menyadari perubahannya. Dulu, dia amat suka ketenangan. Lebih banyak menghabiskan waktu di apartemen dan kantor jika tidak berkencan dengan Olivia. Siapa sangka kalau keramaian ternyata nyaman untuknya.
“Ayah masak apa?”
Setelah menyapu dua rumah dan berkutat di dapur, Leo akhirnya menjadi anak pertama yang bangun. Dia menguap lebar ketika duduk di salah satu kursi meja makan.
“Ayam goreng tepung,” balasnya sembari memasukkan ayam ke dalam wajan yang sudah panas.
“Aku bantu, Yah.”
“Istirahat aja. Kamu masih ngantuk gitu.”
Leo tetap mendekat dan mencuci tangannya di wastafel sebelum meraih sawi putih utuh.
“Mau ditumis, Yah?” tanyanya.
“Iya. Nggak apa. Biarin aja, Leo. Kamu balik ke kamar sana.”
“Udah nggak ngantuk kok, Yah.”
Leo membantu dengan tenang. Bisa dikatakan, tangannya bahkan lebih terampil dalam hal memotong-motong daripada Damar. Ketenangannya membuat Damar makin yakin kalau semalam Leo tidur sangat nyenyak sampai tidak tahu kehebohan yang terjadi.
“Tempe! Tempeee! Tahu! Tahuuu!”
Suara penjual tempe dan tahu keliling yang lewat di depan rumah membuat Damar buru-buru ingin berlari keluar.
“Bentar mau beli tempe dulu.”
“Aku aja, Yah.”
“Kamu lihat ayam gorengnya aja. Awas gosong!”
Kodir, si penjual tempe, sudah mengayuh sepedanya dua meter jauh dari halaman rumah ketika mata Damar menangkap Sri sedang membersihkan mobilnya dengan sengaja meninggikan suara ketika berkomat-kamit tentang najis, amit-amit jabang bayi, dan buang sial. Tangannya yang semula sudah terangkat untuk melambai kepada Kodir berubah menjadi terkepal.
Niat membeli tempe sudah tertelan amarah. Dia menutup kembali pintu rumah dengan lebih keras, lalu menyesal di detik berikutnya karena pasti mengejutkan anak-anak yang masih terlelap.
“Tempenya mana, Yah?” Leo bertanya saat menyadari Damar kembali dengan tangan kosong.
“Orangnya sudah keburu jauh,” bohong Damar dengan kembali meremas-remas ayam agar tepungnya makin terbalur, meski itu hanyalah alasan untuk meluapkan amarah yang belum surut.
“JANU!”
Damar dan Leo menoleh serentak ke arah Ari yang masuk ke dapur dengan napas terengah-engah. Bola mata bundarnya kalut dan siap menangis.
“Ayah! Janu hilang!” pekiknya dengan menarik-narik kaos Damar.
“Janu ada di kamar Ayah, Ari.” Damar menenangkan dengan mengelus pipi Ari, tidak sadar sudah membuat wajahnya penuh tepung karena tangannya yang kotor. Namun, berhasil menggagalkan air mata Ari yang semula sudah di permukaan.
“Kenapa Janu tiba-tiba tidur sama Ayah?” Leo bertanya, kebingungan. Pasalnya, dia ingat kalau si kembar masuk ke dalam kamar bersama-sama bahkan dia yang mematikan lampu di kamar mereka.
Belum sempat Damar menjawab Leo, Ari kembali bertanya, “Janu sudah sembuh?”
“Janu sakit?!” Leo makin kelabakan.
Damar mengangguk. “Iya, tadi demam sama muntah-muntah. Sekarang udah nggak apa-apa.”
Leo kembali mencuci tangannya di wastafel sebelum berlari keluar menuju rumah sebelah. Ari pun menyusul dengan langkah-langkah kecilnya yang gesit.