Adam masih tidak memberikan jawaban pasti berupa “ya” atau “tidak”, tetapi dia tidak berkomentar dan mengelak ketika pesanan lima koper datang empat hari kemudian. Rachel sering memeluk koper merah mudanya, sedangkan si kembar sudah sibuk menempel stiker NASA beserta bulan-bintang untuk menghias koper birunya. Leo ikutan membeli stiker NBA dan melakukan proyek yang sama seperti si kembar.
“Kamu nggak mau hias koper juga?” tanya Damar sewaktu Adam memandangi adik-adiknya yang sibuk dengan koper masing-masing.
“Nggak perlu,” jawabnya, sangat datar seperti tembok.
“Kalau gitu kamu bisa mulai mengemas pakaian dan barang-barang yang mau kamu bawa ke Jakarta.”
Untuk sekali lagi, Adam tidak mengangguk atau menggeleng tetapi dia langsung beranjak dan menyeret koper hitamnya menuju kamar.
Damar mengeluarkan ponselnya saat duduk di sofa sendirian. Melihat data keuangan yang setiap bulan diperbarui. Dia sudah merevisi banyak hal dan memangkas banyak angka untuk persiapan membeli rumah dan biaya pendidikan anak-anak.
Dia memiliki tabungan yang lebih dari cukup untuk semuanya, meski dia harus bekerja lebih keras agar rekeningnya kembali gemuk setelah diperas habis-habisan. Setidaknya, dia bersyukur hasil dari persiapan menikah dengan Olivia yang gagal ternyata berguna juga.
“Ayah! Ada tamu!”
Ketika Damar memasukkan perhitungan lagi untuk kolom les privat anak-anak, Janu berseru kencang.
“Siapa?” Damar bertanya-tanya sambil beranjak demi melihat seorang perempuan setengah baya berkerudung hitam sedang menatapnya tajam.
Damar sangat mengenalnya sehingga dia memberi isyarat kepada Leo untuk membawa adik-adiknya masuk ke dalam kamar.
Penampilan perempuan itu jauh berbeda dari ingatan terakhirnya. Meski pakaiannya kini tertutup dan sopan, tetapi dia yakin benar kalau kedatangannya ke sini membawa obor api seperti yang selalu dia lakukan di masa lalu.
“Tante Yuli,” sapanya dengan memaksakan senyum kepada adik kandung mendiang ayahnya.
“Silakan masuk.”
Yuli melengos ke ruang tamu tanpa salam, lalu mendudukkan tubuh gempalnya ke sofa tunggal. Lima detik kemudian, berpindah ke sofa panjang karena sofa tunggal terlalu menghimpitnya.
“Apa kabar, Tan?” Damar berbasa-basi, tetapi Yuli hanya berdehem dan mulai mengeluarkan ultimatum.
“Serahkan rumah ini. Rumah ini milik mendiang kakakku.”
Saat Damar berusia tujuh tahun, Yuli adalah orang yang sangat menentang kedatangannya. Dia memarahi Ferdi habis-habisan dan tidak habis pikir kenapa harus memungut anak dari sampah.
“Kalau kesepian kan bisa menikah lagi? Ngapain ngerepotin diri sendiri?!”
Meskipun Damar sudah sembunyi di kamar, suara menggelegarnya tetap tidak bisa dihalangi pintu. Di setiap lebaran, Yuli pun tetap berlaku ketus dan bahkan langsung mencuci tangannya setelah bersalaman dengan Damar selama halal bi halal.
Tidak ada kesan bagus mengenai tantenya. Terakhir bertemu pun, Yuli terus mendesak Ferdi untuk memberikan separuh kebunnya dengan alasan membayar hutang. Dan ayahnya yang baik, tentu memberikan tanpa banyak bicara. Jadi, dia tidak heran kalau kemunculannya tetap membahas mengenai harta.