Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #19

BAB 19. MENJADI ULTRAMAN

Orang bilang, rencana hanya lapisan awal dari sebuah harapan. Jika bisa berjalan tanpa adanya masalah, maka itu sebuah keajaiban yang patut disyukuri. 

Damar sudah sangat familiar dengan kegagalan rencana, sebulan lalu rencana menikahnya sudah gagal pun bebarengan dengan jalan karirnya. Oleh karena itu, ketika rencana kepindahan ke Jakarta sedang di ujung tanduk, dia tidak terlalu terkejut. Hanya saja, dia perlu memutar otak untuk berbicara kepada anak-anak yang sudah terlanjur bersemangat. 

“Ayah! Ayah! Kita nanti bisa ke puncak monas, kan?” tanya Rachel sambil lompat-lompat di depan Damar.

Damar belum menjawab, tetapi Janu lebih dulu menyahut, “Tentu dong! Kita bakal naik ke monas terus liat seluruh kota pakai teropong!”

Kedua tangan Janu yang membentuk lingkaran dipasang ke depan matanya dengan mulut terus mencucu. Ari yang di sebelahnya ikut-ikutan sambil berseru, “Woah, indahnya!”

Damar tahu kalau imajinasi mereka sedang bekerja. Dan dia tidak setega itu untuk membuyarkan apa yang mereka bayangkan tentang hingar-bingar Jakarta. 

“Ya, tapi … kalian harus tahu juga kalau di sana macet dan banyak polusi,” timpal Damar, menjadi langkah awal untuk menyuguhkan kenyataan secara perlahan. 

“Nggak apa, Yah! Nanti Rachel biar pakai masker! Aku sih baik-baik aja lawan polusi.” Janu membalas dengan pemikiran yang sangat positif untuk mewakili adik-adiknya. Rachel manggut-manggut.

Damar meringis, benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan. Tidak mungkin dia asal ceplos, “Sepertinya rencana kita harus ditunda beberapa bulan sampai persidangan selesai.”

Anak-anak tidak akan mengerti apa itu persidangan. Dan Damar pun tidak mau menjelaskan tentang hukum yang sedang dia perjuangkan agar rumah anak-anak tidak berpindah kepemilikan. Mereka terlampau kecil untuk mengerti, yah … kecuali Adam. 

Namun, anak itu tidak banyak bicara sejak menangis di pelukannya seminggu yang lalu. Padahal, dia mengira kalau mereka akan lebih dekat setelah saling membuka hati. Mungkin, menarik hati remaja tanggung memang lebih sulit daripada memancing di samudera lepas. 

“Yah! Ada Pak Saba!” Leo yang sedang menyapu teras, buru-buru masuk dengan memeluk gagang sapunya. 

“Tolong jaga adik-adik ya, Leo. Kak Adam masih belajar,” pesan Damar sebelum menyambut Pak Saba yang sudah datang ke rumah tiga kali dalam satu pekan. Di kunjungannya yang keempat ini, lelaki tua itu membawa map yang lebih tebal. 

“Yuli sudah mengajukan gugatan sengketa waris ke Pengadilan Agama,” lapor Pak Saba. 

Seketika kepala Damar ingin pecah mendengarnya, padahal dia belum membaca berkas yang disiapkan Pak Saba secara keseluruhan. 

“Ini akan jadi pengadilan yang panjang, Damar. Apalagi sudah tersebar kalau hubunganmu dengan ayahmu tidak berjalan baik.”

“Tapi aku ingin tetap berjuang, Pak. Ayah pasti juga ingin memperjuangkan hak anak-anak.”

“Ya, aku tahu.”

Damar memang tidak pantas mendapatkan harta Ferdi. Dia yang paling tahu itu. Dia dengan sengaja memutus komunikasi dengan ayahnya karena sakit hati. Akan tetapi, dia ingin memenangkan pertempuran ini untuk anak-anak.

“Walau nanti aku mengajak mereka ke Jakarta, aku mau rumah ini tetap menjadi tempat pulang. Mereka pasti punya banyak kenangan di sini bersama ibunya,” tuturnya.

Adam dan anak-anak belum pernah menceritakan seperti apa ibunya. Dia hanya tahu tentang ayah mereka yang kejam, tetapi dia yakin kalau ibu mereka adalah orang baik.

“Kapan sidangnya dimulai, Pak?” tanyanya kemudian. 

“Tiga minggu lagi. Kamu harus persiapkan diri.”

Damar mengangguk-angguk. Pak Saba pamit undur diri setelah menyerahkan  berkas-berkas pendukung sidang kepada Damar. 

Lihat selengkapnya