Lima Bintang Jatuh di Halaman

Aimaru Roen
Chapter #20

BAB 20. DI ANTARA TAWA DAN KEJUTAN

“Ayah, kapan kita berangkat? Si Dodi udah rese bilang aku pembohong karena nggak pindah-pindah.” 

Satu minggu sebelum sidang pertama dimulai, Janu akhirnya bertanya mengenai rencana besar pindah ke Jakarta. Adam membalas dengan pelototan seolah sedang memperingati Janu agar tutup mulut. 

Damar yang sedang bermain boneka dengan Rachel langsung termangu. “Belum tahu, Janu. Ayah masih nyiapin berkas-berkasnya.”

Damar bisa mendengar suaranya sendiri yang dipenuhi rasa bersalah. Kini dia seperti orang dewasa bodoh yang tidak bertanggung jawab dengan janjinya sendiri. 

Selama dua minggu terakhir, dia masih sibuk dengan persiapan sidang. Ditambah Pak Saba yang mengatakan masih ada pekerjaan di Malaysia selama persidangan sehingga tidak bisa mewakilkan Damar. Dia terlalu tenggelam dengan kesibukan hingga mengabaikan harapan anak-anak yang sudah terlanjur melambung tinggi. 

“Jadi, masih lama, Yah?” Ari ikut menimpali.

 Kedua bibir Damar menipis. Mengira-ngira waktu yang sekiranya tepat setelah semuanya selesai. 

“Ayah usahain tiga bulan.”

Estimasi waktu proses sidang mungkin lebih lama dari tiga bulan, tetapi Damar janji kalau itu adalah waktu paling maksimal mereka tinggal di rumah ini. Jika memang persidangan masih berlanjut, dia akan berangkat dari Jakarta. Setidaknya, anak-anak tidak akan merasa memakan janji palsu. 

“Tiga bulan itu ada berapa hari?” Janu menggumam pelan. 

“Satu bulan ada tiga puluh!” balas Ari. 

“Berarti ….” Bola mata Janu bergulir ke atas saat memaksa otaknya berpikir. “Sembilan puluh hari lagi?” tebaknya. 

“Betul. Sembilan puluh hari,” sahut Leo. 

“Sembilan puluh itu banyak banget. Berarti masih lama, ya?” Rachel yang duduk di pangkuan Damar ikut memasuki pembicaraan. 

“Enggak. Sebentar kok.” Adam menjawab, alih-alih Damar. “Kamu nggak bakal berasa. Waktu kayak berjalan sekedipan mata selama kita bahagia.”

Damar menunjukkan ekspresi haru secara terang-terangan. Dulu, dia tidak mengira kalau si sulung berkepala batu itu akan memihaknya. 

Keesokan harinya, Janu menyapa Damar dengan perhitungan mundur. Matanya masih setengah terbuka ketika keluar dari kamar, tapi mulutnya sudah lantang menduduki tiap sudut rumah.

“Selamat pagi, Ayah! Kurang delapan puluh sembilan hari lagi kita pindah!”

Damar yang sedang memindahkan kuah sop dari panci ke mangkuk dibuat terkejut hingga kuahnya mengenai kulit tangan. Janu memandangnya dengan gelengan prihatin. 

“Hati-hati dong, Yah,” peringatnya, seolah tidak menyadari kalau suara lekingnya penyebab keterkejutan Damar. 

“Iya. Makasih perhatiannya, Janu.”

Janu nyengir lebar sebelum kembali masuk ke kamar untuk membangunkan Ari. Didengar dari suara gedebuk yang diikuti pekikan Ari, sepertinya Janu berhasil menendangnya sampai jatuh dari tempat tidur. 

“Anak itu ….” Damar menggeleng pelan, tapi tetap terkekeh. 

Senyumannya bertambah rekah kala melihat Rachel yang baru bangun tidur. Rambut panjangnya berantakan. Mulutnya menguap lebar. Tetapi dia tetap anak paling menggemaskan di matanya. 

“Pagi, Rachel,” sapa Damar. 

Rachel tersenyum dan berlari memeluk Damar. “Pagi, Yah!”

Pelukan Rachel berhasil menghilangkan seluruh pening dan lelahnya. Damar sampai tak ingat kalau semalam dia tidak tidur karena harus menyelesaikan deadline pekerjaan dan melakukan riset tentang kasus-kasus sengketa waris yang terjadi di Indonesia. Mengira-ngira berapa persen tingkat kemenangan yang bisa dimiliki. 

Tiga hari menjelang sidang pertama, Adam yang semula terlihat tenang ikutan gusar. Beberapa kali dia membantu Damar menata berkas-berkas, meskipun Damar sudah menyuruhnya untuk tetap fokus belajar. 

“Aku kan cuma mau bantu sedikit.”

“Adik-adikmu sebentar lagi pulang sekolah. Harusnya kamu belajar aja mumpung rumahnya sepi.”

Adam tetap menurut meski dengan tampang enggan. Air muka Adam yang memberengut mengingatkan Damar kepada Rachel kalau tidak boleh makan es krim banyak-banyak. 

Damar memperhatikan Adam yang masuk ke kamar dengan sesekali masih menoleh padanya yang duduk di ruang tengah. Memang Adam adalah anak yang terbiasa bertanggung jawab, jadi dia pasti ingin berkontribusi menyelesaikan segala masalah. Namun, sekarang dia harus belajar cara menjadi anak muda yang sebenarnya. Anak muda yang tidak perlu memusingkan permasalahan orang dewasa. 

Dering telepon mengalihkan fokus Damar. Dia mengerutkan dahi sebelum mengusap layar ke kanan untuk menerima panggilan. 

“Gimana?” tanyanya, tanpa babibu kepada orang di seberang. 

“GIMANA APANYA?! LO YANG GIMANA?”

Suara Gilang meleking kuat sampai Damar harus menjauhkan ponsel dari telinga kanan. Padahal dia tidak menyalakan fitur loudspeaker , mungkin Gilang berbicara menggunakan mikrofon. 

Lihat selengkapnya