Dua bulan sejak putus dari Damar, Olivia mengalami insomnia. Kebiasaan buruk semasa kuliah itu kembali datang, tepat setelah obatnya sudah pergi—lebih tepatnya, dia sendiri yang menendang pergi.
Selama tujuh tahun dia baik-baik saja, bagaimana bisa dia kembali susah tidur gara-gara putus dari Damar? Dia bahkan sudah memutar suara-suara Damar yang tertinggal di ruang percakapan mereka, tetapi dia malah menangis rindu daripada terlelap.
“Keputusanku nggak salah. Keputusanku nggak salah.”
Berulang kali dia merapalkan keyakinan itu. Dia tidak masalah membuang cintanya demi masa depan. Karena hidup tanpa Damar lebih baik daripada hidup dengan ketakutan-ketakutan melepaskan impian. Meskipun di setiap malam, dia akan menangis rindu, semua tetap akan baik-baik saja.
Akan tetapi, keyakinan itu tumpah ketika mendengar panggilan Gilang saat dia membeli kopi di salah satu kafe dekat wilayah kantor.
“Damar sudah punya anak? Bahkan anaknya sudah sekolah?”
Suara Gilang terlampau keras hingga terdengar ke tiap penjuru kafe. Gumaman Olivia pun cukup nyaring untuk didengar hingga orang yang mengantre di belakangnya agak terperanjat. Lebih-lebih saat Olivia mengambil derap langkah cepat sampai menabrak beberapa bahu yang melewatinya. Tak peduli seberapa banyak tatapan sinis yang diterima, hanya satu tujuannya.
“Apa maksudnya Damar nikah sama janda?!”
Gebrakannya di meja Gilang cukup membuat lelaki itu hampir menjatuhkan ponselnya. Namun, Olivia tidak akan pergi sampai mendapatkan penjelasan lebih lanjut.
Damar sudah punya anak katanya? Apa dia menikah dengan semudah itu setelah dicampakkan? Dia tahu kalau perpisahan ini keputusannya sendiri, tapi dia tetap terluka jika Damar melupakannya semudah itu.
Atau … jangan-jangan Damar memang sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain saat bersamanya? Meski Gilang tidak menceritakan apa-apa dengan dalih baru dihubungi Damar satu kali untuk mengecek rumah, dia tetap membuat berbagai skenario pengkhianatan di kepala.
Damar sudah menyiapkan rumah di Pondok Indah bersama perempuan lain, dan anak-anaknya. Rumah yang sebelumnya diperuntukkan dirinya, kini akan dimiliki orang lain. Damar akan hidup bahagia seperti yang dia idam-idamkan. Dan, ternyata rasanya sangat pahit membayangkan senyuman Damar bersama perempuan selain dirinya.
“Gue mau lihat sendiri.”
Sebagai orang terencana, menyetir ke Semarang secara mendadak sudah mengacaukan banyak jadwalnya. Setelah menghubungi kantor dengan beralasan cuti sakit, dia terus mencengkeram kemudi menuju alamat rumah yang dulu sekali pernah Damar obrolkan.
Perjalanan tujuh jam tak menyurutkan niatnya sama sekali. Seluruh tubuhnya penat dan sakit karena mengemudi tanpa henti, tetapi semuanya tidak sebanding dengan pedih di hatinya ketika menemukan Damar sedang bersama lima anak.
LIMA.
Seberapa lama pengkhianatan Damar sampai dia punya anak lima? Apa jangan-jangan selaman ini dirinya yang jadi selingkuhan?
“Dasar brengsek!”
“Kenapa kamu nampar Ayah?!”
Satu-satunya anak perempuan, juga yang paling kecil, memukul-mukul kaki Olivia tepat setelah dia menampar Damar. Olivia menunduk kaget sebelum Damar meraih anak itu dan menggendongnya menjauh dari Olivia.
“Nggak apa-apa, Rachel. Hanya salah paham,” ucap Damar dengan senyuman manis. Senyuman yang dulu membuat Olivia jatuh hati, pun hingga saat ini.
“Kalian masuk dulu, ya. Mandi sekarang karena keburu Magrib.”
Damar menyerahkan Rachel ke pelukan Adam walau dia memberontak. “Nggak mau! Mau sama Ayah! Nanti Ayah dipukul sama Kakak Jahat lagi!”
“Ayah nggak bakal dipukul lagi!”
Damar melambaikan tangannya kepada Rachel dan Adam yang sudah masuk, sedangkan Leo dan si kembar berjalan menjauh dengan tatapan tajam kepada Olivia.
“Jangan sakiti, Ayah! Nanti kami gigit!” ancam Janu. Bibirnya tersibak lebar memperlihatkan deretan gigi yang sengaja digemeretakkan seperti dinosaurus lapar.
Leo, yang biasanya menengahi segala perseteruan, ikut memberikan tatapan intimidasi kepada Olivia sebelum menghilang ke dalam rumah.
“So?” Kedua alis Olivia terangkat saat kembali menatap Damar yang kini menghilangkan senyum di wajahnya.